Monday, September 3, 2012

Minoritas Rohingya dan Refleksi Mayoritas

Kenikmatan Ramadhan sepertinya tidak bisa dirasakan etnis minoritas Rohingya. Saat muslim lain di Asia Tenggara sibuk dengan rutinitas sepanjang Ramadhan, etnis yang tinggal di Barat Myanmar ini harus berbondong-bondong keluar dari tanah kelahiran mereka. Bentrokan Rohingya-Rakhine pada awal Juni lalu disinyalir menjadi pemicu mengungsinya etnis minoritas ini.

Mayoritas dan homogenitas
Sebagai negara yang tengah melakukan reformasi besar-besaran, Myanmar memiliki demografi penduduk yang cukup homogen. Hal ini tidak lepas dari tradisi yang terbentuk secara etnisitas dan religiusitas di mana 67 persen penduduk Myanmar beretnis Burma dan lebih dari 85 persen beragama Buddha. Kondisi sosial tersebut merupakan opsi signifikan bagi pemerintah Myanmar untuk mengkonstruksi identitasnya dalam proses pembentukan negara.

Meninjau rekam jejak pemerintah junta militer yang otoriter dan represif, proses tersebut memiliki kecenderungan untuk dimanipulasi oleh elit yang terlibat dalam konstruksi identitas untuk dijadikan sebagai aturan yang sah. Disadari atau tidak, pemerintah Myanmar berusaha memperbaiki citranya di mata internasional sambil memperkuat identitas nasionalnya. Identitas yang solid ini hendak ditunjukan Myanmar melalui kesatuan negara dan legitimasi kekuasaan melalui penciptaan populasi yang seolah-olah bersatu.

Kartini, Mitos, dan Identitas

Dari sekian banyak hari besar nasional yang diperingati di negeri ini, hanya satu hari yang menggunakan nama seorang pahlawan. Kartini, hari besar nasional yang dirayakan setiap tanggal 21 April dari upacara sampai dengan parade busana daerah. Berbagai acara seremonial tersebut sengaja didedikasikan untuk menghormati cita-cita perjuangan Kartini. Meski tiap tahun kita memperingati hari Kartini, kita toh tak mengenalnya secara mendalam.

Kita hanya mengenal sosok Kartini lewat gambar dan narasi singkat selama di bangku sekolah. Wajar jika kemudian, generasi muda kita menganggap Kartini sebagai mitos belaka. Hal ini juga diungkapkan Pramoedya Ananta Toer (1962) secara kritis, “Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos tentangnya.”