Monday, September 3, 2012

Kartini, Mitos, dan Identitas

Dari sekian banyak hari besar nasional yang diperingati di negeri ini, hanya satu hari yang menggunakan nama seorang pahlawan. Kartini, hari besar nasional yang dirayakan setiap tanggal 21 April dari upacara sampai dengan parade busana daerah. Berbagai acara seremonial tersebut sengaja didedikasikan untuk menghormati cita-cita perjuangan Kartini. Meski tiap tahun kita memperingati hari Kartini, kita toh tak mengenalnya secara mendalam.

Kita hanya mengenal sosok Kartini lewat gambar dan narasi singkat selama di bangku sekolah. Wajar jika kemudian, generasi muda kita menganggap Kartini sebagai mitos belaka. Hal ini juga diungkapkan Pramoedya Ananta Toer (1962) secara kritis, “Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos tentangnya.” 


Demitologisasi alá Kartini
Posisi Kartini yang bak dewa dewi dalam mitos amat kontradiktif dengan pemikirannya yang anti-mitos. Dia melihat, kehidupan masyarakat pada zamannya yang terus mengandalkan mitos sebagai penafikan dari kenyataan. Bagi Kartini, mitos bukanlah solusi dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme asing. Mitos hanya proyeksi yang membuai kesadaran masyarakat untuk membebaskan diri dari kekuasaan eksploitatif. Dari asumsi inilah pemikiran Kartini mulai bersinggungan dengan rasionalitas yang menjadi ciri modernisasi.

Rasionalitas merupakan upaya radikal dalam menerapkan demitologisasi. Seperti yang diutarakan Kuntowijoyo (2002), salah satu upaya demitologisasi adalah memperkenalkan ilmu pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan, manusia memperoleh penjelasan atas berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Melalui ilmu pengetahuan pula, manusia tidak lagi membuat dugaan-dugaan semu untuk menciptakan rasa nyaman dan aman dalam dinamika kehidupan.


Ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan baik secara formal maupun informal. Sehingga wajar jika dahulu Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan. Mengapa harus khusus perempuan? “Dari perempuanlah pertama-tama manusia menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata,” demikianlah Kartini mengungkapkan dalam suratnya. Harapannya tentu agar perempuan dapat memberikan pengajaran yang rasional agar terbebas dari mitos-mitos yang melemahkan bangsa.     


Akan tetapi, mitologisasi justru beradaptasi dengan mengandalkan teknologi yang notabene hasil dari modernitas. Mitos-mitos modern pun lahir dalam konstruksi yang bukan lagi dalam sistem metafisika untuk menjelaskan hal-hal selain fenomena di dunia. Dengan tetap menjaga konsistensinya untuk memenuhi harapan-harapan manusia, mitos modern bergerak dalam ranah orientasi pasar.


Mitos kecantikan misalnya, sengaja dikomodifikasi untuk memenuhi harapan perempuan untuk menjadi cantik. Hal ini pun berlanjut pada standarisasi akan definisi kecantikan itu sendiri. Pada saat ini, seseorang disebut cantik jika dia berkulit putih dan berhidung mancung, laiknya orang Barat. Standarisasi ini memperoleh masifikasi melalui industri media. Alhasil, semua orang pun ingin menjadi seperti Barat, mulai dari penampilan fisik sampai gaya hidup.


Contoh signifikan dari keberhasilan komodifikasi ide-ide pem-Barat-an adalah budaya popular Korea yang kini tengah digandrungi generasi muda kita. Apa pun yang berasal dari negeri Ginseng itu serta merta dikonsumsi. Begitu mudahnya generasi muda kita menerapkan copy paste kultur asing merupakan gejala yang dapat dikatakan sebagai krisis identitas. Gejala ini diawali dengan penafikan akan identitas diri.   


Identitas dalam Problematika Modernitas

Modernitas yang berasal dari Barat sering kali menghantarkan pada keraguan akan identitas Kartini. Kartini pun dikecam sebagai orang Belanda ataupun setengah Belanda. Tuduhan ini tidak lepas dari asumsi awam bahwa untuk menjadi modern maka kita harus menjadi Barat. Lalu terciptalah persepsi umum yang menyamakan antara modernisasi dengan Westernisasi. Apa yang dimaksudkan Kartini bukanlah demikian. Marwah pemikiran Kartini dapat ditemukan pada uraian rinci Nurcholish Madjid (2008), bahwa modernisasi adalah rasionalisasi, bukan westernisasi.

Pada titik ini, Kartini berhasil menjawab persoalan identitas yang merupakan bagian dari problematika modernitas. Dalam suratnya yang ditujukan untuk Stella Zeehandelaar, Kartini menegaskan, “Mungkin kami dibenami oleh pikiran dan perasaan Barat, namun darah kami darah Jawa.” Hal senada juga ditemukan dalam surat yang diperuntukan bagi Rosa Abendanon, “Dengan pendidikan bebas itu kami justru membuat orang Jawa menjadi orang Jawa sejati.“


Meski istilah ke-Indonesia-an memang belum dikenal pada masa itu, Kartini telah menekankan arti penting pendidikan dalam pembentukan identitas bangsa. Untuk itu, sistem pendidikan yang solid amat dibutuhkan. Salah satu caranya adalah dengan menghindarkan penyelenggaran pendidikan yang terkesan praktis dan pragmatis. Kepraktisan dan kepragmatisan Ujian Nasional (UN) misalnya, telah menjadikan sistem pendidikan kita menjadi momok tahunan. Demi kelulusan, segala cara praktis dihalalkan baik oleh pihak pendidik maupun yang dididik.


Akibatnya, peran pendidikan yang seharusnya membentuk jati diri bangsa justru mereduksi identitas bangsa sendiri. Bentuk pragmatis dari pencarian identitas adalah dengan meng-copy paste apa yang saja yang dianggap popular. Apabila gejala ini tidak segera ditangani secara serius maka jadilah bangsa kita sebagai bangsa copy paste, bangsa yang hanya mengekor keunggulan bangsa lain. Hal ini tentu menyimpang dari cita-cita yang diamanahkan Kartini.


Padahal, Kartini telah meletakan rumusan awal dalam melakukan counter culture terhadap imperialisme budaya asing, yakni dengan mempertegas identitas diri. Sebab, identitas yang komplemen dengan rasionalitas merupakan strategi utama atas eksistensi dan kedigdayaan suatu bangsa. Tanpanya, bangsa Indonesia hanya akan menjadi objek bagi bangsa asing, baik dari segi sosial, kultural, hingga ekonomi.*** 


(Tulisan ini pernah dimuat di pelitaonline.com tepatnya pada link http://www.pelitaonline.com/read-opini/94/kartini-mitos-dan-identitas/)

No comments:

Post a Comment