Sunday, October 20, 2013

INDONESIA, ASIA TENGGARA, DAN PERDAGANGAN NARKOBA

Setelah insiden kecelakaan Tugu Tani beberapa waktu lalu, media masa nasional gencar memberitakan peredaran narkoba di Tanah Air. Penangkapan jaringan pengedar internasional dan penggunaan narkoba di kalangan pilot hanya segelintir kasus yang terungkap. Faktanya tentu jauh lebih besar. Menurut data BNN, terdapat 3,8 juta jiwa pengguna narkoba di Indonesia. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat hingga 2,8 persen tahun ini.

Selain selisih harga yang lebih menguntungkan, populasi penduduk Indonesia tentu menjadi magnet tersendiri bagi jaringan pengedar obat-obat terlarang internasional. Saat ini saja, Indonesia menduduki urutan ketiga di dunia sebagai pasar terbesar barang haram ini. Faktor lain yang mempermudah peredaran narkoba di Tanah Air tidak lepas dari luas wilayah Indonesia yang rentan.

Friday, September 27, 2013

REVIEW FILM STATE OF PLAY

Tentara Bayaran dalam Sistem Pertahanan Negara


Film berdurasi 128 menit ini menyajikan berbagai macam intrik, konflik, dan skandal dalam proses pengambilan kebijakan,  khususnya bidang pertahanan dan keamanan.  Aktor-aktor yang terlibat dalam proses tersebut tidak hanya berasal dari kalangan pemerintah -seperti legislatif dan eksekutif,  tetapi juga media dan industri militer yang merupakan pressure group dalam film ini. Karena itu, konflik kepentingan antar aktor cukup terasa,  di samping ruang lingkupnya yang terbatas dalam ranah domestik.

Konflik kepentingan merupakan hal yang lumrah dalam proses pengambilan kebijakan, terlebih bidang pertahanan dan keamanan merupakan wilayah strategis yang menyangkut kapabilitas power dan eksistensi suatu negara. Di Amerika Serikat (AS), kebijakan pertahanan keamanan dipengaruhi oleh iron triangle yang terdiri dari Pentagon, industri militer atau Private Military Company (PMC), dan kongres - baik kubu Republik maupun Demokrat (Kosiak & Heeter, 2000). Namun,  durasi yang terbatas membuat sutradara Kevin Macdonald hanya menampilkan dua dari iron triangle tersebut, yakni Pointcorp sebagai PMC dan sosok Stephen Collins (Ben Affleck) yang merupakan salah satu anggota kongres.

Tuesday, August 20, 2013

SCHOLAR BUT UNEDUCATED

Hampir tiap tahun kita memperingati hari pendidikan nasional, hampir tiap tahun pula negeri ini menghasilkan ribuan lulusan siswa dan mahasiswa. Jumlah ini pun menunjukan tanda-tanda peningkatan. Dengan kata lain masyarakat yang melek huruf semakin bertambah dan orang-orang yang bisa membaca semakin banyak. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kenapa kualitas pendidikan di negeri kita semakin merosot? 

Depdiknas pun mengambil keputusan untuk meningkatkan standar nilai kelulusan dari angka empat pada tahun 2005 menjadi lima pada tahun 2007. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia agar mampu bersaing di era globalisasi. Spontan, sindrom khawatir akan ketidaklulusan merambah kalangan pendidik maupun siswa. 

Monday, August 12, 2013

Indonesia’s Foreign Policy in the Establishment of ASEAN


Reference:
Anwar, Dewi Fortuna. Indonesia in ASEAN: Foreign Policy and Regionalism. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. 1994.

Hanrieder, Wolfarm F. Comparative Foreign Policy: Theoretical Essays. New York: David Mckay Co. 1971.

Nugroho, Bantan. Indonesia’s Foreign Policy and ASEAN. Nova Scotia: Dalhousie University. 1996.

Yusuf, Suffri. Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri: Sebuah Analisis Teoretis dan Uraian Tentang Pelaksanaanya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1989.

Monday, July 22, 2013

INTEGRASI ASIA TIMUR DALAM RANCANGAN

Review Masahiro Kawai
"Regional Economic Integration and Cooperation in East Asia"

Pendahuluan
Beranjak dari pandangan bahwa integrasi regional Asia Timur diawali oleh kerjasama ekonomi, Masahiro Kawai berusaha memaparkan bagaimana perdagangan dan Foreign Direct Investment (FDI) berperan dalam proses penyatuan tersebut. Namun, munculnya kesadaran integrasi antara negara-negara di kawasan ini ternyata merupakan dampak dari krisis ekonomi 1997-1998. 

Krisis yang disebabkan buruknya sektor finansial global dan lemahnya struktur domestik tersebut setidaknya memberikan dua pelajaran berharga bagi negara-negara di Asia Timur. Pertama, adanya kebutuhan akan kerangka baru dalam pengaturan finansial global yang mampu mengurangi dampak arus modal yang mudah menguap. Kedua, keberadaan pasar membutuhkan penguatan sistem ekonomi domestik. 

Monday, July 8, 2013

Lahirnya Institusi dalam Hubungan Internasional

Review Tulisan Nicholas Onuf 
“Institutions, Intentions, and International Relations” 

Tulisan ini mengupas tentang histori ontologis dari institusi sebagai cikal bakal perkembangan paradigma liberalisme dalam hubungan internasional. Sebelum institusi masuk sebagai salah satu aktor dalam hubungan internasional, negara merupakan satu-satunya aktor yang dianggap rasional. Kondisi ini dilatari karena belum adanya sudut pandang sistematis dan kerangka referensi yang menjadikan institusi sebagai agen yang rasional. 

Kemunculan insititusi sebagai isu yang diperdebatkan tidaklah lepas dari pemikiran masyarakat Barat yang berasumsi bahwa institusi mampu memenuhi kebutuhan mereka, sehingga harus dirancang untuk keuntungan setiap orang. Berawal dari asumsi inilah pasar (market) menjadi bagian yang digolongkan sebagai institusi. Terkait hal ini terdapat dua kemungkinan yang diyakini para akademisi. Pertama, institusi terlalu penting untuk ditinggalkan karena institusi membatasi pilihan manusia. Kedua, institusi sebaiknya dibiarkan terpisah karena memberikan ruang yang dibutuhkan manusia untuk membuat pilihan rasional.

Monday, July 1, 2013

Mengelola Aset Tindak Pidana

Perkembangan zaman telah membuat berbagai kemajuan terjadi dalam setiap aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam hal kejahatan. Kenyataannya, kejahatan memang tidak lagi dilakukan dalam cara-cara yang sederhana. Kecenderungan yang terjadi saat ini menunjukan kejahatan dilakukan secara terorganisir, melibatkan banyak pihak, dan dilakukan dengan metode atau perangkat yang sangat maju.

Terlebih lagi, kejahatan yang terjadi dewasa ini sering kali memilki motif ekonomi besar dan tidak mudah untuk diberantas. Kesulitan ini dilatari dua faktor, yaitu tingginya motif ekonomi kejahatan tersebut dan kompleksitas modus operandinya. Akibatnya, kejahatan ini memiliki daya rusak yang luar biasa secara ekonomi, baik bagi masyarakat maupun negara. Untuk itu, tindakan menghukum pelaku tindak pidana secara konvensional atau pidana penjara dirasa tidak selalu berhasil mengurangi tingkat kejahatan.


Monday, June 24, 2013

Cara China Melihat Dunia

Selama dua abad lebih, Barat mendominasi dunia. Dominasi yang dipegang silih berganti negara-negara Eropa ini kemudian diserahkan kepada Amerika Serikat (AS) pasca Perang Dunia II. Namun AS tetaplah produk peradaban Eropa. Sebab Eropa menjadi sumber empati dan afinitas antara Dunia Lama dan Dunia Baru yang menumbuhkan ikatan akan ide tentang Barat. Alhasil, dunia modern yang tidak lain adalah Barat ini mencakup negara-negara maju yang terdiri dari AS, Kanada, Eropa Barat, Australia, Selandia Baru, dan Jepang sebagai perkecualian.

Sebuah perubahan historis disuratkan mengubah dunia saat ini. Negara-negara maju Barat dengan cepat dilibas negara-negara berkembang dalam ukuran perekonomian. Secara kolektif, mereka adalah mayoritas penghuni dunia. Laju pertumbuhan ekonomi mereka juga lebih besar dari negara-negara maju. Kebangkitan mereka sudah menghasilkan pergeseran signifikan dalam perimbangan kekuatan ekonomi global.


Tuesday, June 18, 2013

Membumikan Pancasila dalam Syariat Islam

Pada akhir Mei 1945, pertanyaan tentang dasar negara mengawali sidang Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ketika para anggota sidang umumnya lebih memilih untuk membahas Undang-Undang Dasar, Soekarno menjawab pertanyaan itu dalam bentuk pidato pada 1 Juni 1945 dengan judul Pancasila. Soekarno menyebut kelima prinsip tersebut sebagai Weltanschauung (ideologi negara bangsa).

Bagi Soekarno, Weltanschauung yang dimiliki suatu negara haruslah sesuai dengan kondisi bangsanya masing-masing. Dilatarbelakangi oleh penderitaan bangsa di bawah penjajahan Belanda dan Jepang, Bung Karno bertekad mengikis habis dampak buruk penjajahan dengan diawali mengangkat harga diri bangsa Indonesia. Salah satu cara yang ditempuh adalah menggali Weltanschauung dari jati diri dan budaya bangsa Indonesia sendiri.