Monday, June 24, 2013

Cara China Melihat Dunia

Selama dua abad lebih, Barat mendominasi dunia. Dominasi yang dipegang silih berganti negara-negara Eropa ini kemudian diserahkan kepada Amerika Serikat (AS) pasca Perang Dunia II. Namun AS tetaplah produk peradaban Eropa. Sebab Eropa menjadi sumber empati dan afinitas antara Dunia Lama dan Dunia Baru yang menumbuhkan ikatan akan ide tentang Barat. Alhasil, dunia modern yang tidak lain adalah Barat ini mencakup negara-negara maju yang terdiri dari AS, Kanada, Eropa Barat, Australia, Selandia Baru, dan Jepang sebagai perkecualian.

Sebuah perubahan historis disuratkan mengubah dunia saat ini. Negara-negara maju Barat dengan cepat dilibas negara-negara berkembang dalam ukuran perekonomian. Secara kolektif, mereka adalah mayoritas penghuni dunia. Laju pertumbuhan ekonomi mereka juga lebih besar dari negara-negara maju. Kebangkitan mereka sudah menghasilkan pergeseran signifikan dalam perimbangan kekuatan ekonomi global.




Padahal, prasyarat untuk menjadi sebuah kekuatan hegemonik adalah kekuatan ekonomi. Meski begitu, kekuatan imperial yang bangkrut hampir selalu menyangkal kenyataan. Contohnya saja Inggris pada 1918 dan berdasarkan perilaku pemerintahan Bush yang gagal membaca tanda-tanda zaman. Terbiasa hegemonik terlalu lama membuat AS dan Barat sulit menerima sebuah dunia yang terus-menerus menyusutkan pengaruh mereka.

Bagi Barat, kemajuan hampir selalu didefinisikan menurut derajat westernisasi. Kenyataannya, ketika berbagai negara semakin makmur, mereka semakin percaya diri terhadap budaya dan sejarah mereka sendiri. Mereka juga tidak begitu condong untuk meniru Barat, termasuk China. Meski banyak negara berkembang tengah bangkit, China tetap yang paling penting secara ekonomi.

Di sisi lain, sikap arus utama Barat meyakini dunia relatif tidak akan banyak berubah dan China akan menjadi negara tipikal Barat. Hal ini didasarkan pada asumsi: China akan menerima status quo dan menjadi anggota masyarakat internasional yang patuh. Sayangnya, asumsi ini meleset. Efek kebangkitan ekonomi China terasa di seluruh dunia, terutama dari anjloknya harga barang-barang konsumsi dan naiknya, sampai krisis kredit dan harga komoditas.

China memang masih berada dalam tahapan transformasi awal menuju perekonomian modern pada 2027, tetapi China diproyeksikan akan menggusur AS sebagai perekonomian terbesar dunia. Sebagai kekuatan baru yang akan muncul, China tentu akan memanfaatkan kekuatan ekonomi baru mereka demi tujuan-tujuan politik, budaya, dan militer. Pada dasarnya, semua negara selalu melihat dunia dalam kerangka pengalaman mereka sendiri. Saat mereka menjadi hegemon, mereka akan berusaha membentuk dunia menurut nilai dan prioritas mereka.  

Untuk itu, buku ini menghadirkan satu pandangan futuristik yang meyakini pengaruh China terhadap dunia tidak hanya sebatas pada ekonomi. Sebaliknya, efek politik dan budayanya akan berdampak sama luas. Argumen tersebut pun dipaparkan secara komprehensif dari aspek historis maupun kultural yang membedakannya dengan Barat. Sebab, China tidak bisa dilihat sebagai sebuah negara-bangsa.

Berbeda dengan Barat yang identitas rakyatnya diungkapkan dalam kerangka negara-bangsa, identitas China dibentuk sebelum menyandang status negara-bangsa─di mana rakyatnya terus menunjuk apa yang disebut sebagai sejarah 5.000 tahun. Dengan kata lain, bukanlah ide kebangsaan yang mendefinisikan mereka, tetapi peradaban. Dalam konteks ini, China jangan dipandang sebaga negara-bangsa melainkan negara peradaban.

Secara otomatis, konteks ini pun menjelaskan bagaimana keterkaitan pelosok China yang sekarang disebut Asia Timur berdasarkan hubungan upeti. Negara-negara yang mengakui keunggulan budaya China dan kekuatan besarnya membayar upeti kepada Kerajaan Tengah (Zhõngguó) dengan imbalan kemurahan hati dan perlindungan. Di samping itu, hal yang perlu diketahui dari karakteristik China yang paling penting, yakni kesatuannya.

Kalangan Barat meyakini China akan terpecah-pecah seperti Uni Soviet pasca penindasan Lapangan Tiananmen. Lagi-lagi asumsi ini keliru. China sedang bergerak ke arah sebaliknya. Meski harus melewati masa panjang Balkanisasi, China bertahan mencapai kesatuan. Hasilnya adalah sebuah negara yang didiami manusia terbanyak yang menempati wilayah yang kurang lebih sama selama hampir dua milenium. Kondisi ini tentu mempengaruhi caranya memandang bangsa-bangsa lain.

Untuk memahami bagaimana China mendefiniskan dunia, buku ini menjadi bacaan yang tidak bisa dilewatkan. Terlebih lagi, buku ini berusaha menjelaskan kebangkitan China dan perubahan yang dibawanya pada peta geoekonomi dan politik global. Maka, bagi mereka yang mengikuti perkembangan konstelasi global, buku ini layak dijadikan referensi yang dapat memberikan tinjauan masa depan.

Lelly Andriasanti, 
Dosen Ilmu Hubungan Internasional IISIP Jakarta

Judul               : When China Rules the World (Ketika China Menguasai Dunia)
Penulis             : Martin Jacques
Penerjemah      : Noor Cholis, Jarot Sumarwoto
Terbit               : 2011
Penerbit           : PT. Kompas Media Nusantara
Tebal               : 606 halaman  

No comments:

Post a Comment