Tuesday, June 18, 2013

Membumikan Pancasila dalam Syariat Islam

Pada akhir Mei 1945, pertanyaan tentang dasar negara mengawali sidang Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ketika para anggota sidang umumnya lebih memilih untuk membahas Undang-Undang Dasar, Soekarno menjawab pertanyaan itu dalam bentuk pidato pada 1 Juni 1945 dengan judul Pancasila. Soekarno menyebut kelima prinsip tersebut sebagai Weltanschauung (ideologi negara bangsa).

Bagi Soekarno, Weltanschauung yang dimiliki suatu negara haruslah sesuai dengan kondisi bangsanya masing-masing. Dilatarbelakangi oleh penderitaan bangsa di bawah penjajahan Belanda dan Jepang, Bung Karno bertekad mengikis habis dampak buruk penjajahan dengan diawali mengangkat harga diri bangsa Indonesia. Salah satu cara yang ditempuh adalah menggali Weltanschauung dari jati diri dan budaya bangsa Indonesia sendiri.


Wajar saja jika Bung Karno menolak mentah-mentah impor Weltanschauung negara dan bangsa asing, sebab belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Secara berurutan, Weltanschauung yang dirumuskan dalam lima sila tersebut adalah sebagai berikut: Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagi mereka yang berpandangan normatif-tekstual, sila Ketuhanan sangat sakral sehingga menghendakinya sebagai sila pertama. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa Ketuhanan merupakan primakausa bagi sila-sila lainnya. Paham yang umumnya dianut oleh kalangan institusi keagamaan ini pun semakin mendapat tempat di era Orde Baru yang berusaha menghilangkan jejak Bung Karno dalam sejarah lahirnya Pancasila. 

Akhirnya, selama berpuluh-puluh tahun Pancasila versi Soekarno ini seolah terlupakan sebagai sebuah referensi otentik bagi Pancasila yang tertuang dalam UUD 1945. Bahkan, ada kecenderungan sistemik untuk menistakan Soekarno, karena menilainya melakukan kekeliruan mendasar dengan meletakkan Ketuhanan sebagai sila kelima. Sedangkan Kebangsaan ditempatkan pada sila pertama.

Melalui pendekatan historis, buku ini mencoba mengkaji Pancasila 1 Juni 1945 dari sudut pandang syariat Islam. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkapkan sisi kebangsaan menurut syariat yang selama ini selalu dipertentangkan. Buku ini sekaligus menunjukan bahwa kebangsaan atau nasionalisme Indonesia sama sekali tidak bertentangan dengan syariah. Peletakan sila kebangsaan lebih dilatari momentum kemerdekaan di mana rasa kebangsaan adalah faktor utama dalam membangun negara yang merdeka. 

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang dibangun atas dasar kesamaan sebagai bangsa. Dengan kata lain, Indonesia adalah negara kebangsaan dan bukan negara yang dibangun oleh kesamaan agama. Itulah mengapa Bung Karno meletakkan sila kebangsaan pada sila pertama dalam pidato kelahiran Pancasila. Sedangkan filosofi penempatan sila Ketuhanan sebagai sila terakhir bukanlah dimaksudkan untuk menistakan keyakinan agama.

Dalam syariat Islam, baik secara tekstual maupun kontekstual, adalah sangat kuat dasarnya untuk menempatkan sila ketuhanan pada sila terakhir. Terlebih lagi, Allah SWT menyatakan dalam Al-quran, nama-Nya dapat disebut di awal ataupun di akhir (Huw al-Awwal wa al-Akhir). Dilihat dari sudut filsafat pun, Bung Karno telah menjadikan sila Ketuhanan sebagai dasar pemikiran final cause atau ultimate cause. Artinya, Tuhan dipandang sebagai tujuan akhir dari segala amal pengabdian di dunia.

Selain itu, buku ini juga menunjukan benang merah antara lahirnya Pancasila dengan perjuangan kebangsaan yang dilakoni oleh Bung Karno. Berdasarkan catatan sejarah, perlawanan kali pertama terhadap Belanda di ranah politik nasional modern dilakukan Bung Karno ketika ia diadili oleh Pengadilan Belanda di Bandung. Melalui pidato yang berjudul Indonesia Menggugat, Bung Karno tampil sebagai representasi bangsa dalam pengadilan tersebut.

Hal terpenting yang harus dicamkan ialah,  pidato lahirnya Pancasila oleh Bung Karno sama sekali tidak berarti bahwa Pancasila adalah ciptaan Bung Karno seorang. Ia sendiri selalu menolak untuk disebut demikian. Ia hanya mengaku sebagai perumus Pancasila yang segenap isinya digali dari rasa yang tumbuh pada budaya Indonesia sendiri, dan semuanya merupakan anugerah dari Tuhan. Jadi, tidak salah jika dikatakan bahwa Pancasila adalah anugerah untuk bangsa ini.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan referensi yang menarik untuk memperkaya khazanah pemahaman kita mengenai Pancasila, baik menurut versi 1 Juni 1945 maupun yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Tidak hanya itu, gaya bahasanya yang mudah dicerna juga mempermudah pembaca untuk memahami filosofi historis tentang pendirian Indonesia sebagai negara sekaligus bangsa. Karena itu, buku ini merupakan referensi yang patut dibaca agar kita lebih menghargai perjuangan para pendiri bangsa.

Lelly Andriasanti,
Dosen Institute Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta

Judul         : Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam
Penulis      : Hamka Haq
Editor        : Ariful Mursyidi
Penerbit     : RMBooks
Tebal         : 237 halaman

No comments:

Post a Comment