Monday, July 22, 2013

INTEGRASI ASIA TIMUR DALAM RANCANGAN

Review Masahiro Kawai
"Regional Economic Integration and Cooperation in East Asia"

Pendahuluan
Beranjak dari pandangan bahwa integrasi regional Asia Timur diawali oleh kerjasama ekonomi, Masahiro Kawai berusaha memaparkan bagaimana perdagangan dan Foreign Direct Investment (FDI) berperan dalam proses penyatuan tersebut. Namun, munculnya kesadaran integrasi antara negara-negara di kawasan ini ternyata merupakan dampak dari krisis ekonomi 1997-1998. 

Krisis yang disebabkan buruknya sektor finansial global dan lemahnya struktur domestik tersebut setidaknya memberikan dua pelajaran berharga bagi negara-negara di Asia Timur. Pertama, adanya kebutuhan akan kerangka baru dalam pengaturan finansial global yang mampu mengurangi dampak arus modal yang mudah menguap. Kedua, keberadaan pasar membutuhkan penguatan sistem ekonomi domestik. 

Negara-negara Asia Timur pun segera mengantisipasi krisis tersebut dengan berbagai upaya, baik pada tingkat global maupun nasional. Pada tingkat global, International Monetary Fund (IMF) merupakan pemain utama yang menentukan arsitektur finansial internasional. Sebagai bentuk tindakan preventif, lembaga ini memperkenalkan bentuk fasilitas peminjaman baru bagi negara-negara yang terkena dampak krisis, seperti Contigent Credit Line (CCL) yang dibentuk pada tahun 1999. Di samping itu, IMF juga menerapkan transparansi atas operasionalisasinya dan reformasi Private Sector Involvement (PSI). 

Pada tingkat nasional, fokus perhatian ditujukan pada perbaikan kerangka kerja regulasi dan pengawasan sistem finansial. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat korporasi pemerintah dan membangun efektifitas domestik.

Pentingnya Arsitektur Finansial Regional Baru 
Dalam menjaga stabilitas sistem finansial internasional, Kawai menguraikan tiga alasan perlunya dirancang kerangka kerja regional. Pertama, belum memadainya upaya global dan efektifitas upaya nasional yang masih memakan waktu lama. Kedua, integrasi regional lebih terasa pada ranah perdagangan, FDI, dan arus finansial. Ketiga, penyebaran dampak ekonomi cenderung melihat dari aspek geografis di mana kerjasama regional dialamatkan dalam upaya pencegahan, manajemen, dan resolusi krisis. 

Upaya pencegahan krisis dapat dilakukan dengan berbagi informasi, dialog kebijakan, pengawasan dan pemantauan ekonomi. Konsentrasi dari upaya ini berkisar pada makroekonomi dan isu struktural seperti kebijakan moneter, nilai tukar valuta asing, posisi fiskal, manajemen hutang, dan arus modal. Selain itu, pembangunan sistem peringatan dini juga dirasa perlu untuk mendeteksi kelemahan sektor finansial dan makroekonomi.

Ada pun manajemen krisis dimulai dari ketepatan kebijakan dalam merespon krisis dan adanya ketentuan likuiditas internasional. Dalam resolusi krisis, upaya internasional dibutuhkan untuk menjamin tidak terulangnya dampak krisis yang berkelanjutan. Untuk itu, mobilisasi sumber daya fiskal dibutuhkan sebagai resolusi esensial yang cepat dalam menghadapi krisis sistemik yang menyebar pada sektor perbankan, korporasi, dan sosial.

Logika Jepang dalam Integrasi Ekonomi Asia Timur
Meski dalam kerangka kerja di bawah World Trade Organization (WTO), Asia Timur telah menikmati hasil dari ekspansi pasar perdagangan dan FDI. Kedua aspek yang bermuara pada kerjasama ekonomi ini dinilai mampu menyelesaikan masalah collective action dan internalisasi dampak eksternalitas (spill over). Alhasil, interdependensi ekonomi antar negara-negara di Asia Timur tidak terelakan lagi. 

Interdependensi tidak hanya terjadi pada sektor perdagangan saja, tapi juga pada sektor finansial. Ketergantungan pada sektor tersebut merupakan hasil dari peningkatan terbukanya pelayanan bagi institusi asing dan deregulasi pada sistem finansial, serta liberalisasi neraca perdagangan di ekonomi Asia Timur. Untuk itu, perlu adanya mekanisme pengaturan yang lebih formal dalam bentuk institusi. 

Secara keseluruhan, tulisan ini merupakan rekomendasi yang ditawarkan Jepang dalam mewujudkan integrasi regional. Pasalnya, Asia Timur merupakan home base perekonomian Jepang. Hal ini ditandai dengan berkembanganya jaringan bisnis dan indsutri di Asia Timur yang menunjukan orientasi perusahaan ke luar Jepang. Karena itu, integrasi Asia Timur menjadi sangat penting bagi Jepang agar dapat mengelola jaringan bisnisnya secara lebih efektif (Hadi dan Dharmastuti, 2005). 

Selain menengguk keuntungan ekonomi berupa pertumbuhan ekonomi domestiknya, integrasi Asia Timur pun meningkatkan peran politik Jepang. Bagaimana pun juga, sistem internasional merupakan the battle of idea, gagasan Jepang untuk mengintegrasikan Asia Timur ke dalam bentuk insititusi telah meningkatkan posisi tawar Jepang di mata internasional. 

Terlebih lagi, Jepang berkontribusi dalam mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi sehingga meningkatkan kompetisi pasar dan kerjasama ekonomi. Beberapa kreasi yang diinisiasi oleh Jepang antara lain Free Trade Area (FTA) Jepang dengan Korea, Singapura, dan ASEAN. Inisiatif lain yang membawa Jepang sebagai “pengawas” pembangunan di negara-negara Asia Timur adalah bantuan technical assistance dalam bentuk soft aid.

Daftar Pustaka
Hadi, Syamsul dan Shanty Dharmastuti. “Posisi dan Peran Jepang dalam Mewujudkan Integrasi Regional di Asia Timur.” Manabu: Journal of Japanese Studies 1:1 (August). 2005.

Kawai, Masahiro. "Regional Economic Integration and Cooperation in East Asia" presented to the Mid-term Review Workshop held in Paris, April 19-20, 2004.



No comments:

Post a Comment