Monday, July 8, 2013

Lahirnya Institusi dalam Hubungan Internasional

Review Tulisan Nicholas Onuf 
“Institutions, Intentions, and International Relations” 

Tulisan ini mengupas tentang histori ontologis dari institusi sebagai cikal bakal perkembangan paradigma liberalisme dalam hubungan internasional. Sebelum institusi masuk sebagai salah satu aktor dalam hubungan internasional, negara merupakan satu-satunya aktor yang dianggap rasional. Kondisi ini dilatari karena belum adanya sudut pandang sistematis dan kerangka referensi yang menjadikan institusi sebagai agen yang rasional. 

Kemunculan insititusi sebagai isu yang diperdebatkan tidaklah lepas dari pemikiran masyarakat Barat yang berasumsi bahwa institusi mampu memenuhi kebutuhan mereka, sehingga harus dirancang untuk keuntungan setiap orang. Berawal dari asumsi inilah pasar (market) menjadi bagian yang digolongkan sebagai institusi. Terkait hal ini terdapat dua kemungkinan yang diyakini para akademisi. Pertama, institusi terlalu penting untuk ditinggalkan karena institusi membatasi pilihan manusia. Kedua, institusi sebaiknya dibiarkan terpisah karena memberikan ruang yang dibutuhkan manusia untuk membuat pilihan rasional.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam melihat institusi pasar adalah komitmen Hayek akan Laissez Faire yang diartikulasikan dalam dua kategori normatif, yaitu natural dan convention. Kaum naturalis memandang tidak ada perbedaan fundamental antara sifat dasar manusia dan masyarakat, karena satu sama lain saling memberikan kemajuan. Sedangkan konvensionalis lebih melihat perilaku manusia memunculkan konvensi sekaligus membentuk masyarakat. Adapun pandangan alternatif di mana kerjasama dalam masyarakat datang secara alamiah. Kerjasama inilah yang nantinya berkembang menjadi institusi sebagai tanda dari adanya masyarakat. 

Selain faktor masyarakat, institusi juga terbentuk melalui rangsangan atas kepentingan individu dan sebagai hasil dari aktifasi kepentingan tersebut. Institusi merupakan subjek berkesinambungan untuk pembangunan yang terarah dan subjek berkala untuk perubahan berencana. Hal ini dikarenakan institusi terdiri dari peraturan yang disadari dan dibangun antara individu atau kelompok, pembentukan kompleks yang terus menerus dan terintegrasi, serta pengorganisasian pola tingkah laku.  Di samping aturan, ada pula tata tertib yang memuat nilai (value) dalam konteks hubungan internasional. Nilai inilah yang kemudian memotivasi negara untuk berkontribusi pada hubungan politiknya di tingkat internasional. 

Institutional Design
Nicholas Onuf cenderung memulai tulisannya dengan pengutamaan peran individu dalam perkembangan institusi yang menjadikan pemikiran Friederich Hayek sebagai acuan utama. Onuf berusaha memaparkan pandangan Hayek tentang kemungkinan terjadinya institusi hingga penggunaan skema besar institusi dalam hubungan internasional kontemporer. Berbeda dengan Onuf yang tampaknya lebih historis, Randall W. Stone justru berpikir lebih praktis. Stone memilih untuk mengawali perkembangan institusi dengan menggunakan konsep agen dan delegasi otoritas sebagai bentuk penyerahan sebagian power kepada institusi. Agen yang dimaksudkan Stone bukanlah individu, melainkan negara-negara yang tergabung dalam institusi. 

Bagi Onuf, negara merupakan salah satu institusi yang memiliki tujuan yang luas untuk menjamin kebebasan dan aturannya dibanding institusi lainnya. Namun, tulisan Onuf  lebih fokus pada pasar yang dikatakannya sebagai institusi yang rumit. Pasar seolah dirancang untuk memberikan hasil yang tidak terduga tetapi tetap memiliki peraturan. Di sinilah letak persamaan Onuf dan Stone, keduanya sama-sama mengakui pentingnya peraturan dalam institusi. Menurut Onuf, peraturan penting dalam menentukan tingkah laku partisipan dalam pasar, sehingga memiliki akses terhadap properti yang bebas dibeli, digunakan maupun dijual. Seperangkat aturan atau biasa disebut rezim inilah yang menentukan tindakan masyarakat dalam mengejar tujuan universal-nya, meski masyarakat terdiri dari agen-agen dan institusi yang memiliki kepentingan bersaing. Terkait efektifitas dari institusi, Onuf menilai peraturan dibutuhkan untuk konstruksi intelektual yang berperan dalam kehidupan sosial demi efektifitas. Sedangkan Stone melihat, efektifitas institusi tergantung dari partisipasi sukarela anggotanya yang membutuhkan peraturan yang terlegitimasi. 

Kehadiran institusi sebagai agen dalam hubungan internasional bukanlah tanpa kritik. Kebanyakan kritik datang dari kalangan realis yang cenderung menegasikan institusi. Mereka memandang ketika negara-negara yang dalam institusi ini bekerja sama, nyatanya mereka masih melakukannya atas dasar kepentingan nasional semata. Akhirnya, institusi tidak lebih dari wahana persaingan terbuka antara negara besar dan kecil. Selain itu, jika institusi menjadi subjek berkesinambungan untuk pembangunan yang terarah dan subjek berkala untuk perubahan berencana, ternyata tidak ada mekanisme seleksi alami yang tersedia untuk mengawasi peruhaban tersebut.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini antara lain: pertama, kesepakatan anggota masyarakat melahirkan institusi sebagai fenomena sosial. Karena itu, institusi berfungsi laiknya orgnisme, tetapi tidak semua fenomena dapat dilihat sebagai organisme yang memiliki struktur sosial. Tentunya ini merupaka konsekuensi nyata dari pilihan kepentingan individu dan masyarakat yang dibuat menurut aturan dari institusi yang dibangun. Institusi dibutuhkan masyarakat karena dinilai mampu memfasilitasi kepentingan masyarakat tersebut. Kedua, Institusi diidentifikasikan dengan nilai-nilai yang dianut bersama, memiliki tujuan yang nantinya menentukan peranannya dan bergerak pada kategori tertentu. Dalam konteks hubungan internasional, institusi menentukan peranan kolektif negara-negara yang bernaung di dalamnya. Ketiga, institusi membutuhkan peraturan atau rezim demi efektifitas dari eksistensinya. Sebab, peraturan diperlukan untuk mengontrol tindakan anggota-anggotanya.

Daftar Pustaka
Moravsick, A., dan H. V. Milner. Power, Interdependence, and Non-state Actor in World Politics. U.S.A: Princeton University Press. 2009.
Onuf, Nicholas. “Institutions, Intentions and International Relations.” Review of  International Studies (Vol. 28). British International Studies. 2002.

No comments:

Post a Comment