Tuesday, August 20, 2013

SCHOLAR BUT UNEDUCATED

Hampir tiap tahun kita memperingati hari pendidikan nasional, hampir tiap tahun pula negeri ini menghasilkan ribuan lulusan siswa dan mahasiswa. Jumlah ini pun menunjukan tanda-tanda peningkatan. Dengan kata lain masyarakat yang melek huruf semakin bertambah dan orang-orang yang bisa membaca semakin banyak. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kenapa kualitas pendidikan di negeri kita semakin merosot? 

Depdiknas pun mengambil keputusan untuk meningkatkan standar nilai kelulusan dari angka empat pada tahun 2005 menjadi lima pada tahun 2007. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia agar mampu bersaing di era globalisasi. Spontan, sindrom khawatir akan ketidaklulusan merambah kalangan pendidik maupun siswa. 

Untuk mengantisipasi kegusaran massal ini, beberapa waktu silam wakil presiden Yusuf Kalla pun berujar optimis bahwa meskipun standar nilai kelulusan dinaikan, siswa yang lulus UN mencapai kurang lebih 90%. Hal ini sesuai dengan prediksi yang diungkapkan oleh Mendiknas, Bambang Sudibyo. Prediksi ini pun harus terbentur oleh fakta di lapangan dimana kelulusan lebih banyak diwarnai oleh tindak kecurangan hampir di seluruh sekolah di tanah air. Parahnya, Pembocoran soal dan kunci jawaban ujian telah berlangsung lama bahkan mungkin mendarah daging. 

Jika tindak kecurangan ini dikategorikan sebagai pencurian atau tindak kriminalitas, tentu pelakunya harus diadili secara yuridis, tidak peduli pihak yang memberikan jawaban maupun yang menerima. Namun jika kejahatannya dilakukan secara massal, bagaimana jadinya? Lembaga masyarakat di Indonesia saja sudah overload, mau dikemanakan calon-calon napi ini nantinya? 

Mungkin dari argumen di atas ada beberapa pihak yang protes, kenapa pihak yang menerima juga harus dinyatakan bersalah? Ingat saja satu hukum ekonomi, penawaran tidak akan ada, jika tidak ada permintaan. Dengan kata lain kalau tidak ada penadah maka pembocoran soal tidak akan pernah terjadi. Dalam hal ini banyak pihak yang menilai bahwa kalangan pendidik (guru, kepala sekolah, dll) selalu menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh atas bocornya soal-soal UN. Sebab, pendidik merupakan sosok yang dianggap sebagai tauladan. Ini sesuai dengan peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Retorika ini cukup menjelaskan bagaimana mainstream anak bangsa jika berada di bawah asuhan pendidik-pendidik yang korup. Jadi, kita tidak perlu heran kalau banyak kasus korupsi yang dilakukan secara beramai-ramai. Wajarlah jika bangsa kita terbiasa untuk melakukan kejahatan secara berjamaah (collective criminality), pendidikannya toh sudah dipupuk sejak dini. Kondisi ini juga tidak lepas dari mentalitas bangsa kita yang ‘malu-malu mau’, sehingga banyak orang yang bersikap apatis dan pragmatis, bahkan tidak jarang sikap ini ditunjukan oleh kalangan siswa dan orang tua siswa. 

Hal yang lebih patut kita renungi adalah kita juga menjadi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan masal tersebut! Jika kita mengetahui suatu kejahatan tapi kita malah menutup mata, kita tidak ubahnya sama seperti mereka yang sudah tidak punya akal dan hati nurani yang sehat. 

Namun, disamping berbagai peristiwa yang mencoreng sejarah pendidikan negeri ini, kita masih patut bersyukur dan berbangga karena ternyata masih ada orang-orang yang mau rela berkorban demi kemajuan ibu pertiwi. Sebut saja gerakan air mata guru di Medan dan penolakkan sekelompok siswa SMU untuk mengikuti UN di Padang. Mereka tidak peduli jika berbagai bentuk intimidasi menimpa mereka, karena mereka lebih peduli pada tegaknya keadilan di ibu pertiwi. 

Karena itu, Jika membenci suatu kebusukan, jangan hanya dipendam dalam hati tapi juga harus dituangkan lewat perbuatan. Apalagi jika kamu merasa bersekolah dan mengenyam pendidikan. 

So, jangan pernah mengaku anak sekolahan (scholar) kalau mentalnya tidak berpendidikan (uneducated)! Karena anak yang bersekolah memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan ilmunya di masyarakat dengan harapan mampu menciptakan kesejahteraan dan menjaga keberlangsungan bangsanya. Ingat! kemajuan negeri ini terkait erat dengan mentalitas bangsa dan mentalitas bangsa tergantung dari diri kita sendiri, lho!

(Tulisan ini dimuat di Seputar Indonesia, 11 Mei 2007)

No comments:

Post a Comment