Sunday, September 14, 2014

Identitas Islam Moderat dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Abstract 

In recent years, Indonesia's foreign policy seemed to be portraying moderate Islamic identity in international relations. This is in contrast to practices foreign policy of Indonesia, which has historically avoided the reflection factor of Islam while the majority of the population is Muslim. This condition encourages question, why Indonesia's foreign policy promoting moderate Islamic identity. The used methodology in this study is a qualitative in discourse analysis. The results of this study are moderate Islam Indonesia wants to identify its self to distinguish from other Muslim countries, especially the Middle East region; there are expectations of the international community, especially Western countries, to understand and get closer to the Muslim world; Indonesia government wants to accommodate the voice of domestic Muslim community that had been hoping for a better relations with the Muslim world; the motivation of Indonesia to take part in international relations in accordance with the consistency of its worldview.

Keywords: identity, Moderate Islam, Indonesia’s Foreign Policy, and Role

Unduh di sini Jurnal Global Vol. 16 No. 1 Desember 2013-Mei 2014.

Thursday, August 7, 2014

Islam dalam Politik Luar Negeri Jokowi

Meski telah memasuki Ramadhan, isu bernuansa SARA masih saja menyerang Jokowi. Meski demikian, Jokowi menunjukkan kualitas dirinya sebagai capres untuk mengakomodasi kelompok Muslim yang merupakan golongan mayoritas di negeri ini. 

Menurut Rizal Sukma (2010), isu utama komunitas muslim dalam kebijakan luar negeri Indonesia bukanlah bagaimana memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan luar negeri secara Islami. Akan tetapi, hal ini lebih pada kebutuhan untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Muslim dan menaruh perhatian terhadap isu-isu di dunia Islam sekaligus melakukan inisiatif terhadap isu tersebut. 

Pasalnya, komunitas muslim memandang adalah absurd jika Indonesia yang berpenduduk Muslim terbesar hanya menduduki posisi pinggiran dan memainkan peran marginal di dunia Islam.

Thursday, July 3, 2014

Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Jokowi

Dalam debat capres bidang politik internasional dan ketahanan nasional pada 22 Juni lalu, kita dapat melihat gambaran arah politik luar negeri Indonesia dalam lima tahun ke depan. Dari dua capres yang bersaing, Joko Widodo cukup mendapat sorotan. Pasalnya, publik memandang Jokowi tidak menguasai kedua bidang tersebut dibanding kompetitornya, Prabowo, yang berlatar belakang Kopasus.

Di luar dugaan, Jokowi mampu memetakan masalah dan memberikan solusi alternatif terkait posisi Indonesia dalam percaturan internasional. Setidaknya terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam paparan yang disampaikan Jokowi. Pertama, ada keberlanjutan ide atau pemikiran yang diwariskan para pendiri bangsa. Hal ini nampak dari acuan politik luar negeri Indonesia yang tidak lepas dari prinsip bebas-aktif.

Kedua, Jokowi menghembuskan perspektif baru dalam politik luar negeri Indonesia. Perlu diketahui bahwa selama satu dekade ini politik luar negeri Indonesia lekat dengan slogan one thousand friend zero enemy. Namun, Jokowi menawarkan suatu pengambilan peran yang lebih aktif bagi Indonesia, yakni menjadi poros maritim dunia.

Monday, June 30, 2014

Diplomasi Kretek ála Agus Salim

Aroma kretek begitu kental dengan Agus Salim. Melalui kretek juga, ia mampu mencairkan suasana saat menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II. Sebagai perwakilan dari Indonesia, Agus Salim rupanya tersinggung pada Pangeran Philip yang kurang memperhatikan tamu asing yang datang dari negeri jauh. 

Seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya di depan hidung sang pangeran, ia berujar, “apakah Paduka mengenali aroma rokok ini?” Sang pangeran yang ragu menghirup rokok itu pun mengaku tidak mengenal aromanya. Dengan tersenyum, Agus Salim pun berkata, “itulah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya”.