Monday, June 30, 2014

Diplomasi Kretek ála Agus Salim

Aroma kretek begitu kental dengan Agus Salim. Melalui kretek juga, ia mampu mencairkan suasana saat menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II. Sebagai perwakilan dari Indonesia, Agus Salim rupanya tersinggung pada Pangeran Philip yang kurang memperhatikan tamu asing yang datang dari negeri jauh. 

Seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya di depan hidung sang pangeran, ia berujar, “apakah Paduka mengenali aroma rokok ini?” Sang pangeran yang ragu menghirup rokok itu pun mengaku tidak mengenal aromanya. Dengan tersenyum, Agus Salim pun berkata, “itulah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya”.


Bukan Bangsa Inferior
Pria Minang kelahiran Oktober 1884 ini tidak pernah menempatkan dirinya lebih rendah dari yang lain, bahkan di depan tokoh asing sekali pun. Oleh Mohamad Roem, Agus Salim digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya pandai bernegosiasi, tapi juga ahli berkelit dan lidahnya amat tajam kala mengecam. Karena itu, jarang ada orang yang mau menghadapinya. 

Kelihaiannya berbicara dalam tujuh bahasa asing telah membuatnya disegani di dunia internasional. Uniknya, ia tidak pernah mengubah aksennya saat berbicara dan tidak meminta maaf atas hal tersebut. Bagi Agus Salim, hal yang terpenting dalam berbahasa adalah tata bahasanya. Lebih lanjut ia menegaskan, permintaan maaf dalam berbicara atas hal yang tidak terkait dengan tata bahasa hanya akan menempatkan diri kita sebagai pihak yang inferior.

Dari pribadi yang tidak inferior itulah Agus Salim mampu mengangkat harga diri bangsa sehingga dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sejumlah pengakuan atas kemerdekaan Indonesia pun datang beruntun. Beberapa di antaranya berasal dari negara-negara Arab yang dapat dianggap sebagai jasa Agus Salim. Namun perlu diingat! Bukan inferior, tidak pula menjadikan Agus Salim sosok yang superior. 

Pria yang akrab disapa paatje ini berpandangan, “memimpin adalah menderita, memimpin adalah melayani.” Meski pernah tiga kali menjabat sebagai menteri luar negeri, kehidupan Agus Salim dan keluarganya tergolong melarat dan menderita. Mereka sering kali berpindah-pindah tempat tinggal, karena paatje tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Bahkan mereka pernah hidup tanpa listrik karena tidak memiliki uang untuk jaminan membayar listrik. 

Kondisi tersebut tentu jauh berbeda dengan kalangan diplomat kita saat ini yang penuh dengan kemewahan fasilitas tapi tidak berbanding lurus dengan kinerjanya. Mereka justru lebih sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan pelayanan elitis dalam eksklusivitas juru runding. Mungkin elit pemerintah berpandangan, harga diri bangsa dapat diukur dari elegansi protokoler semata. Jika benar demikian, Indonesia telah memasang standar harga diri yang begitu memprihatinkan karena cenderung alpa dari identitas dan kepentingan bangsanya.

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana Indonesia yang menjadi ketua ASEAN tahun ini sukses menggarap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 di Jakarta. Dalam konferensi yang berjalan dua hari tersebut, tak ada satu pun hasilnya yang memiliki dampak yang berpengaruh langsung bagi rakyat. Penyelenggaraan pesta negara-negara Asia Tenggara itu malah mengorbankan hajat hidup rakyat kecil demi kepuasan tamu-tamu asing. Hal serupa mungkin akan kembali terulang jika melihat agenda KTT ke-19 bulan depan.

Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), terdapat tiga agenda utama dalam KTT yang rencananya akan diselenggarakan di Bali tersebut: Pertama, mengkaji implementasi ASEAN menyongsong Komunitas ASEAN 2015. Kedua, upaya-upaya ASEAN menciptakan lingkungan di kawasan yang kondusif. Ketiga, membahas tema keketuaan Indonesia yaitu ‘ASEAN Community in a Global Community of Nations’. 

Dari kaca mata regional, dua agenda pertama bersifat outward looking karena merupakan respon atas trend global, sedangkan agenda terakhir lebih fokus pada peran aktif Indonesia di ASEAN. Sayangnya, Indonesia yang ingin mendulang prestise justru dipermalukan tetangganya yang melakukan pencaplokan wilayah (kooptasi). Berdasarkan fakta yang diperoleh Komisi I DPR, Malaysia mencaplok wilayah RI di Kalimantan Barat sejak beberapa bulan lalu. Setidaknya sekitar 1.400 Ha tanah hilang di Camar Bulan dan 80.000 meter persegi pantai lenyap di Tanjung Datu. 

Padahal isu sengketa wilayah telah mencuat di awal tahun ini, ketika Thailand dan Kamboja berseteru tentang kepemilikan Kuil Preah Vihear. Indonesia pun turut aktif memfasilitasi dialog di antara keduanya. Pencitraan diri sebagai penengah konflik nyatanya kontras dengan ketidakmampuan Indonesia menyelesaikan sengketa dengan Malaysia. Padahal sudah berkali-kali saudara serumpun itu mengusik kedaulatan Indonesia, tapi pemerintah bergeming. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan penyelesaian sengketa akan berulang di Mahkamah Internasional (MI).

Sepertinya pemerintah lebih sibuk untuk melakukan pencitraan dalam memainkan peran internasional, dibanding hirau dengan kedaulatannya. Besar pasak dari pada tiang. Indonesia hanya menjadi bahan olok-olokan masyarakat internasional belaka. Kondisi ini cukup merefleksikan ketidakefektifan Indonesia sebagai ketua ASEAN. Indonesia tidak mampu membuat skala prioritas dan cenderung menabukan isu-isu sensitif seperti sengketa perbatasan dan pengelolaan perbatasan untuk kepentingan bersama.

Dalam hitungan bulan, kepemimpinan Indonesia di ASEAN berakhir. Namun, belum ada kontribusi nyata dari kepemimpinan itu dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional. Negeri ini butuh diplomat-diplomat handal yang dapat mengartikulasikan kepentingan-kepentingannya, bukan untuk pertunjukan keglamoran protokoler. 

Belajar dari gaya diplomasi Agus Salim bahwa tanpa kemewahan sekali pun tidak menjadikan bangsa kita inferior. Kedigdayaan bangsa justru tampak dari kemampuan negara dalam mengelola dan memanfaatkan potensi minimal secara maksimal. Kalangan elit seharusnya lebih sensitif, bahwa pencitraan glamor yang kontras dengan kondisi riil masyarakat hanya akan semakin melukai bangsa ini.  

*Tulisan ini dimuat ketika terjadi isu pergeseran patok-patok perbatasan antara Indonesia-Malaysia, Oktober 2011. 

No comments:

Post a Comment