Thursday, July 3, 2014

Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Jokowi

Dalam debat capres bidang politik internasional dan ketahanan nasional pada 22 Juni lalu, kita dapat melihat gambaran arah politik luar negeri Indonesia dalam lima tahun ke depan. Dari dua capres yang bersaing, Joko Widodo cukup mendapat sorotan. Pasalnya, publik memandang Jokowi tidak menguasai kedua bidang tersebut dibanding kompetitornya, Prabowo, yang berlatar belakang Kopasus.

Di luar dugaan, Jokowi mampu memetakan masalah dan memberikan solusi alternatif terkait posisi Indonesia dalam percaturan internasional. Setidaknya terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam paparan yang disampaikan Jokowi. Pertama, ada keberlanjutan ide atau pemikiran yang diwariskan para pendiri bangsa. Hal ini nampak dari acuan politik luar negeri Indonesia yang tidak lepas dari prinsip bebas-aktif.

Kedua, Jokowi menghembuskan perspektif baru dalam politik luar negeri Indonesia. Perlu diketahui bahwa selama satu dekade ini politik luar negeri Indonesia lekat dengan slogan one thousand friend zero enemy. Namun, Jokowi menawarkan suatu pengambilan peran yang lebih aktif bagi Indonesia, yakni menjadi poros maritim dunia.