Thursday, August 7, 2014

Islam dalam Politik Luar Negeri Jokowi

Meski telah memasuki Ramadhan, isu bernuansa SARA masih saja menyerang Jokowi. Meski demikian, Jokowi menunjukkan kualitas dirinya sebagai capres untuk mengakomodasi kelompok Muslim yang merupakan golongan mayoritas di negeri ini. 

Menurut Rizal Sukma (2010), isu utama komunitas muslim dalam kebijakan luar negeri Indonesia bukanlah bagaimana memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan luar negeri secara Islami. Akan tetapi, hal ini lebih pada kebutuhan untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Muslim dan menaruh perhatian terhadap isu-isu di dunia Islam sekaligus melakukan inisiatif terhadap isu tersebut. 

Pasalnya, komunitas muslim memandang adalah absurd jika Indonesia yang berpenduduk Muslim terbesar hanya menduduki posisi pinggiran dan memainkan peran marginal di dunia Islam.
Pada politik luar negeri khususnya, ada dua isu terkait dunia Muslim yang termuat dalam visi misi Jokowi-JK. Pertama, dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan untuk menjadi anggota PBB. Proyeksi ini dapat kita dengarkan pada saat debat capres bidang politik internasional dan ketahanan nasional. Kedua, berpartisipasi aktif dalam keanggotan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Pernyataan ini dapat kita temukan dalam visi misi Jokowi-JK yang didaftarkan ke KPU. 

Kemerdekaan Palestina 
Dukungan atas kemerdekaan Palestina adalah amanah konstitusi kita. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Karena itu, isu Palestina sebenarnya lebih erat kaitannya pada masalah kemanusian dibanding Islam itu sendiri.

Sayangnya, hal ini tidak dipahami oleh sebagian besar komunitas Muslim dalam negeri. Persoalan yang mencuat kepermukaan justru berkutat pada friksi agama semata. Isu Palestina pun seolah-olah hanya milik komunitas Muslim saja. 

Sehingga wajar jika kemudian komunitas Muslim cukup menaruh apresiasi pada Jokowi yang mempertegas dukungannya atas posisi Palestina untuk menjadi anggota PBB. Meskipun, tidak sedikit pula yang menganggap pernyataan ini sebagai pencitraan belaka. 

Terlepas dari pro-kontra tersebut, kita setidaknya bisa mengetahui bahwa Jokowi menaruh perhatian pada keinginan mayoritas komunitas Muslim tanah air yang ingin terlibat lebih jauh dalam isu-isu dunia Islam. Hal ini pun berkaitan dengan peran aktif Indonesia sebagai anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang juga memasukan isu Palestina sebagai bagian dari agenda utama.  

Sebagai Middle Power dalam OKI

No comments:

Post a Comment