Monday, February 16, 2015

Dialektika Keislaman Agus Salim

-Dida Darul Ulum dan Lelly Andriasanti-

Ia lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884 dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Agus Salim tumbuh di tengah-tengah keluarga muslim taat di Minangkabau yang memiliki tradisi agama Islam yang kental dan mengakar. Lingkungan masyarakat di kampung halamannya memberikan pengaruh berarti dalam pemikiran keislaman.

Tulisan ini berusaha menyajikan pergolakan atau dialektika keislaman dari seorang Agus Salim. Sajian dalam tulisan ini sengaja dibatasi karena tidak semua hal yang menyangkut perjalanan seorang tokoh bisa dibahas secara rinci. Di samping itu, pergolakan atau dialektika keislaman Agus Salim menarik untuk dikaji karena isu-isu yang menyangkut perdebatan dalam keagamaan yang telah disinggung olehnya selalu relevan dengan perkembangan zaman.
Masa kecil Agus Salim dihabiskan bersama komunitas Belanda. Dengan izin  ayahnya, ia mendapat bimbingan langsung dari keluarga salah satu guru Belanda, Brouwer, yang memerhatikan kecerdasannya ketika ia bersekolah di Europeese Lagere School (ELS). Ia melanjutkan studinya di Hogere Burgerschool (HBS) dan tinggal in de kost dengan keluarga Belanda bernama Koks. Tidak hanya menjadi murid pribumi yang terbilang masih jarang di sekolah itu, Agus Salim menuai prestasi gemilang. Ia menjadi lulusan terbaik dari tiga HBS yang ada pada saat itu: Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Agus Salim dikenal sebagai ulama intelek.  Sayangnya dialektika keislaman Agus Salim tidak banyak mendapatkan perhatian meski pria yang mendapatkan julukan sebagai the grand old man ini sangat berperan bagi bangsa, negara, dan umat Islam Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap Agus Salim sebagai seorang pemikir dan pejuang bangsa Indonesia memang memprihatinkan. Hal ini mungkin tidak lepas dari kurikulum sejarah di tingkat sekolah menengah kita yang hanya memperkenalkan Agus Salim sebagai pahlawan nasional. Kondisi ini pun terus berlanjut sampai ke perguruan tinggi.

Dalam sejarah bangsa, antara Agus Salim dan sejarah Indonesia ada hubungan timbal balik yang tak terpisahkan. Arah perkembangan sejarah Indonesia tidak lepas dari perannya sebagai salah satu pendiri bangsa. Begitu pula sebaliknya, pemikiran-pemikiran Agus Salim Salim tentang keislaman dibentuk dan dipengaruhi oleh perjalanan sejarah bangsa ini. Menurut Kustiniyati Mochtar,  Agus Salim bukan pribadi yang berdiri sendiri. Ia secara interaktif adalah produk dari zamannya dan menghirup dampak dari lingkungan di mana ia berada.

(Baca selengkapnya dalam Memoria Indonesia Bergerak)

No comments:

Post a Comment