Tuesday, February 24, 2015

Priawan dan Eksistensinya

Dua orang waria dan seorang priawan ini
tengah mengampanyekan anti kekerasan
terhadap transgender dalam TDOR 2014.
Di Indonesia, transgender selalu diidentikan dengan waria. Saking mendominasinya isu waria dalam diskursus transgender, keberadaan priawan pun seperti terlewatkan. Lalu, apa itu priawan? Kapan mereka ada? Di mana saja mereka berada?

Istilah priawan memang masih asing di telinga kita. Diperkenalkan oleh Guru Besar Psikologi UGM Prof. Koentjoro, Ph.D pada 2004, istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang secara biologis perempuan, tetapi menghayati dirinya sebagai laki-laki. Pemahaman mengenai priawan tidak berhenti sampai di situ. Berdasarkan hasil konsolidasi yang dilakukan Persatuan Priawan Indonesia (PPI) di Jakarta, priawan diartikan sebagai transgender laki-laki —pria yang secara biologis wanita— baik yang sudah melakukan transisi ataupun tidak.

Terlepas dari pemaknaan ulang priawan seiring perkembangan keilmuan kontemporer, eksistensi mereka tidak muncul begitu saja. Merujuk pada sejarah etnografis dan kesustraan di negeri ini, keberadaan mereka cukup diketahui oleh masyarakat umum. Tersebar dari Sulawesi hingga Sumatera, mereka dikenal dengan istilah-istilah lokal seperti calalai di masyarakat Bugis; Srikandi dalam tradisi wayang Jawa; Sentul-Kantil; tomboi dan pacar perempuan di Sumatera Barat (1980-an); tomboi dan istri di Kalimantan Barat.

Terkait hal ini, calalai merupakan satu contoh dalam menggambarkan ekspresi gender priawan. Calalai yang juga dikenal dengan Balaki ini mengacu pada orang yang terlahir wanita tetapi mengambil peran laki-laki heteroseksual dalam masyarakat Bugis. Tidak seperti transgender yang melakukan transisi, calalai hanya berpakaian dan menampilkan diri dalam mode maskulin pria. Uniknya, jika masyarakat umum menolak kehadiran LBT, calalai justru mendapat pengakuan dalam kebudayaan masyarakat Bugis.

Berbeda dengan calalai, tomboi di Sumatera Barat cenderung menghadapi ideologi Minangkabau yang mengharuskan pernikahan heteroseksual. Dalam budaya matrilineal di daerah ini, seorang anak perempuan memegang peranan sebagai penerus garis keturunan keluarga. Secara otomatis, perempuan yang tidak menikah akan mengancam integritas dan status garis keturunan keluarga. Hal ini kerap kali berakhir pada pernikahan paksa. Menurut Evelyn Blackwood, tekanan terus-menerus untuk menikah dan ancaman terhadap pernikahan paksa menunjukkan bagaimana tubuh seseorang dalam budaya ini menentukan jenis gender mereka (Hasrat Perempuan; 2009).

Dari kedua gambaran tersebut memperlihatkan bahwa tiap masyarakat memiliki derajat penerimaan yang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada tradisi yang tumbuh di masing-masing daerah. Namun, jika di tiap daerah itu telah mempunya istilah atau sebutan bagi wanita yang memposisikan diri sebagai laki-laki, mengapa perlu ada istilah priawan?

Secara nasional, komunitas transgender female to male (FTM) di tiap negara perlu memiliki istilah yang memuat khasanah kekayaan bangsanya —misalnya tas di Nepal. Hal ini tidak hanya berguna untuk tujuan advokasi tapi juga dapat mewakili mereka pada tataran transnasional. Sejauh ini, istilah priawan telah memenuhi kaidah tersebut. Bahkan priawan telah umum digunakan sebagai nama yang disematkan pada anak laki-laki. Hal penting yang perlu diingat adalah istilah priawan juga telah mendapat pengakuan secara akademis —oleh Prof. Dr. Kuntjoro.

No comments:

Post a Comment