Sunday, March 1, 2015

Memandang Realitas Beragama dari Orang Mabuk

PK hanyalah orang mabuk. Ucapannya ngawur. Pertanyaan-pertanyaannya yang dia ungkapkan sering kali konyol. Bahkan, ide-idenya pun kebanyakan di luar mainstream. Namun, ide-ide itulah yang menjadi pesan utama dari film India garapan sutradara Rajkumar Hirani. Dengan durasi 150 menit, PK berusaha menampilkan pluralitas sosial beragama di India.


Judul PK (orang mabuk) sepertinya sengaja dipilih sebagai bentuk defensif atas sensivitas beragama yang mungkin muncul nantinya. Sebab, sensivitas beragama bukanlah sekedar ikatan primodial, tapi juga keyakinan yang melibatkan emosi.

Hal ini tidak lepas dari kesakralan ajaran-ajaran agama yang selalu diyakini dengan mengabaikan rasio. Akhirnya, segala hal yang mempertanyakan ataupun mengkritik ajaran agama akan dianggap melecehkan atau menistakan ajaran agama. Bagi mereka yang berani melontarkan kritik, maka harus siap untuk menerima stigma —seperti sebutan PK dalam film ini; sebutan liberal atau kafir di Indonesia.

Aamir Khan, pemeran alien dalam film ini, memang tidak keberatan dipanggil PK. Dia juga tidak berniat mengkritik ajaran agama. Dia hanya ingin menemukan kalung komunikator yang dicuri saat tiba di bumi. Setelah bertanya ke sana kemari, kebanyakan orang hanya memberikan satu jawaban, yaitu Tuhan. Ia pun mulai mencari Tuhan. 

Dalam perjalanannya mencari Tuhan, dia menangkap realitas sosial bahwa masyarakat cenderung menjadikan agama sebagai solusi dari segala masalah kehidupan. Namun realitas lain memperlihatkan di tengah masyarakat yang agamis, permasalahan sosial terus terjadi di mana-mana. Dari sinilah, kritik-kritik si orang mabuk dimulai. Setidaknya ada empat kritik yang diungkapkan dalam film ini. 

Pertama, agama menjadi tidak fungsional. Menurut Emile Durkheim (the Elementry Form of Religious Life, 1912), agama memiliki fungsi sosial untuk membentuk solidaritas, memperkuat integrasi masyarakat, sebagai kontrol sosial, perubahan sosial dan dukungan psikologi bagi masyarakat.

Namun kenyataannya, orang miskin dan kelaparan semakin bertambah, sedangkan mereka yang berpunya lebih memilih membangun rumah-rumah ibadah yang mewah demi manjalankan ritus agama. Tidak hanya itu, film ini juga memperlihatkan bagaiamana perempuan dimarginalisasi atas nama agama. Untuk menggambarkan berbagai bentuk tidak aplikatifnya ajaran agama, film ini menyebutnya dengan istilah wrong number

Kedua, agama menjadi basis dalam membangun pundi-pundi ekonomi dengan tujuan komersil. Dalam film ini kita dapat melihat bagaimana Tapasvi Maharaj, sang pemimpin spiritual, memanfaatkan dana dari pengikutnya atas dasar membangun tempat ibadah. Dengan kata lain, dana sosial yang seharusnya bisa mensejahterakan banyak orang hanya memperkaya sekelompok orang tertentu saja. 

Ketiga, agama melahirkan interaksi simbolis yang berpotensi melahirkan friksi dan konflik. Pada umumnya, penggunaan simbol-simbol agama mengukuhkan identitas antara 'aku' dan 'kamu' ataupun 'kita' dan 'mereka'. Jika identifikasi diri ini tertanam secara radikal dan konservatif, maka akan cenderung memaparkan perbedaan. Hal ini berpotensi pada hilangnya toleransi sehingga mudah mengkafirkan yang lain. Akibatnya, kekerasan menjadi tindakan yang dibenarkan untuk mempertahankan keyakinan ataupun menumpas mereka yang berbeda dan dianggap kafir.


Keempat, Tuhan tidak perlu dibela. Di Indonesia, kritik tersebut lantang disuarakan oleh Abdurahman Wahid (Islamku, Islam Anda, Islam Kita; 2006). Menurutnya, Tuhan tidak perlu dibela tapi umat-Nya atau manusia pada umumnya justru perlu dibela.  

No comments:

Post a Comment