Monday, May 11, 2015

Kelas Menulis 2015

Menulis merupakan salah satu keterampilan dasar berbahasa yang harus kita miliki. Kegiatan menulis seharusnya dibudayakan sejak dini. Sebab, menulis merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ide dan gagasan. Di negara maju seperti Amerika Serikat, kemampuan menulis sudah mulai ditekan sejak sekolah dasar. Satu dari tiga pelajar tingkat tiga sampai delapan mampu menulis cerita dan esay dengan baik (USA Today, 2003). 

Sedangkan di Indonesia, keterampilan menulis siswa lulusan sekolah menengah atas masih terbilang rendah. Rendahnya keterampilan ini disebabkan belum kuatnya tradisi literasi di masyarakat kita. Menurut Freddy K. Kalidjernih, masyarakat Indonesia terlalu lama menjadi pendengar dan pembicara, sehingga tidak mampu menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan dengan baik dan sistematis. 

Berbagai gagasan pun lebih banyak yang diutarakan secara lisan karena dianggap lebih praktis dan mudah. Padahal, gagasan yang diungkapkan secara lisan akan mudah menghilang seiring waktu, dibanding gagasan yang dituangankan dalam bentuk tulisan. 

Banyak dari kita memandang kegiatan menulis sebagai momok yang sangat menakutkan. Sedikitnya ada dua problematika dasar yang dihadapi seseorang dalam menulis. Pertama, problematika internal seperti merasa kurang berbakat, tidak adanya motivasi, kesulitan dalam memulai, wawasan yang sempit, dan kendala kebahasaan.

Kedua, problematika eksternal seperti tidak adanya pembiasaan sejak dini, kurangnya motivasi dari lingkungan, terbatasnya wadah pelatihan penulisan karya ilmiah, kurangnya apresiasi civitas akademik, tidak komprehensifnya kurikulum mengenai penulisan karya ilmiah, pembelajaran lebih banyak pada tataran konsep, tidak tersedianya waktu khusus dan kurangnya dukungan finansial (Rahmiati, 2013). 

Melihat problematika tersebut, saya, melalui Megawati Institute berinisiatif untuk menyelenggarakan kelas pelatihan menulis yang berorientasi pada aplikasi. Karena itu, kelas ini diprioritaskan bagi: 1) kelompok-kelompok rentan agar mereka dapat menuangkan gagasannya secara lebih sistematis; 2) mahasiswa yang tengah menyusun tugas akhir; dan 3) alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) yang berorintasi pada publikasi karya. Untuk itu, kelas menulis ini hanya akan diikuti 30 orang peserta.

Tujuan dari penyelenggaraan kelas menulis ini antara lain: 1) Memotivasi para pemuda/i Indonesia dalam menulis gagasan-gagasannya secara lebih sistematis; 2) Menjadikan para peserta untuk menulis dengan mudah dan asyik; 3) Menjadikan para peserta percaya diri dengan tulisannya; 4) Melahirkan tulisan yang humanis

Kelas menulis ini akan diadakan pada Kamis-Jumat, tanggal 28–29 Mei 2015, pukul 09.00-17.00. Bertempat di Megawati Institut, Jl. Proklamasi No. 53 lantai 2, Jakarta Pusat (Sebelum Gedung MUI). Telp 3921691.

Berikut ini adalah syarat untuk mengikuti kelas menulis ini: 1) Peserta berusia 18-35 tahun; 2) Peserta wajib mengirimkan data diri; 3) Peserta wajib membuat tulisan essay dalam Bahasa Indonesia sebanyak dua lembar, bertemakan “Mengapa Aku Menjadi Penulis.” Essay diketik dengan menggunakan Times New Roman, font 12, dan spasi 1,5 dan dikirim ke email lelly.as@megawatiinstitute.org paling lambat tanggal 25 Mei 2015. 

Kelas menulis ini akan berlangsung selama dua hari yaitu dengan rincian materi sebagai berikut. Pada 28 Mei 2015, materi yang akan disampaikan adalah "Menulis itu Asyik". Kelas yang akan dibawakan oleh Qamaruddin Sf ini akan mengajarkan para peserta bagaimana cara-cara menulis dengan mudah, lancar, dan mengasyikkan. Tujuannya adalah mengarahkan para peserta untuk mendapatkan ilham dan deras gagasan untuk menulis. Masih di hari yang sama, peserta juga akan mendapatkan materi "Menulis Cerpen" dari Anton Kurnia, cerpenis sekaligus pemimpin redaksi fiksi Penerbit Serambi. Kelas ini mengajarkan peserta bagaimana cara menulis cerpen yang menggugah dan dramatik.

Sedangkan pada 29 Mei 2015, para peserta akan mendapat materi "Konstruksi Penulisan Berperspektif Humanis", "Story telling: Menulis Itu Bercerita", dan "Menulis untuk Perdamaian dan Kemanusiaan. Kelas hari kedua ini lebih mengarahkan para peserta untuk menulis dengan perfektif kemanusiaan, ramah lingkungan, dan jauh dari nuansa SARA. Kelas di hari kedua ini akan diisi oleh  Gadis Arivia, Pendiri Jurnal Perempuan; Erna Surjadi, Founder Gender Harmony; Musdah Mulia, Direktur Megawati Intitute.***

Referensi
“Most students still can't write respectably”, USA Today, 1 April 2003.

Freddy K. Kalidjernih dalam seminar dan lokakarya (semiloka) bertajuk “Prinsip dan Praktik dalam Penulisan Akademik di UIN Jakarta, 2 Juni 2008.

Rahmiati, “Problematika Mahasiswa dalam Menulis Karya Ilmiah,” dalam Jurnal Al Hikmah Vol. XV No. 1, 2014



No comments:

Post a Comment