Thursday, July 30, 2015

Cara Asyik Nikmati Abu Vulkanik

Selancar sudah menjadi olahraga yang umum di masyarakat, terutama di daerah pesisir yang umumnya lebih menggemari berselancar di atas ombak. Olahraga ini pun kian berkembang dengan media yang berbeda, seperti di atas salju atau snowboarding, maupun di atas udara yang biasa disebut sky surfing. Namun, apa jadinya jika olahraga yang satu ini dilakukan di atas abu vulkanik? Tentu sangat asyik.

Selancar dengan media abu vulkanik ini biasa dikenal dengan istilah volcano boarding ataupun ash boarding. Olah raga yang tergolong baru ini dilakukan di permukaan gunung vulkanik aktif dengan hanya menggunakan papan dan alat keselamatan yang minim. Anda bisa bayangkan, bagaimana rasanya meluncur di atas abu hitam dengan kepulan asap yang masih panas di sekitar tubuh anda. Menarik bukan?

Volcano Boarding atau juga disebut Volcano Surfing diperkenalkan pada tahun 2005 oleh Philip Southan di Leon, Nikaragua. Pria keturunan Barbados ini terinspirasi untuk mengembangkan volcano boarding saat melakukan perjalanan wisata bersama kekasihnya di Gunung Vulkanik Cerro Negro. Kemudian dia mendirikan Bigfoot Hostel and Green Pathways Tours yang khusus melayani wisatawan yang ingin mencoba volcano boarding di Cerro Negro.

Monday, July 13, 2015

Kegiatan Bedah Buku

DARI CAKALANG PAMPIS SAMPAI CABE-CABEAN*

Apa yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar kata Cakalang Pampis? Bayangan anda tentu tidak jauh dari makanan khas Manado yang pedas dan menggugah selera. Namun bayangan tersebut akan segera buyar ketika anda membaca buku “Dari Cakalang Pampis Sampai Cabe-cabean” karangan Baby Jim Aditya.

Dalam buku ini Baby Jim menarasikan kisah para perempuan korban kekerasana seksual yang selama ini justru sering mendapatkan stigma dari masyarakat. Salah satu kecenderungan yang terjadi pada para korban adalah penghakiman dari para peremuan lainnya, contohnya para istri yang menyalahkan pelaku prostitusi atau ibu yang menyalahkn anak perempuannya yang diperkosa. Kondisi tersebut menyiratkan siklus kekerasan yang akan terus dialami korban.

Thursday, July 9, 2015

Call for Paper

MEMORIA INDONESIA BERGERAK II


Latar Belakang

Dewasa ini, generasi bangsa sudah meninggalkan sejarah, akar jati diri bangsa, warisan perjuangan, dan pemikiran para tokoh di seluruh sendi-sendi bangsa: demokrasi pancasila, pendidikan (terutama pendidikan budi pekerti), penegakan hukum, penghargaan hak asasi manusia (yang tercantum dalam alenia 4 batang tubuh UUD ‘45), dan lain sebagainya. Mereka lebih memuja pemikiran Barat—dengan hanya mengadopsi gaya hidup semata—dan melupakan kemuliaan serta marwah pemikiran para tokoh bangsa yang memberi fondasi berdirinya negara dan bangsa ini. Bahkan, mereka mungkin saja lebih mengenal para tokoh yang berasal dari Barat daripada para tokoh bangsa.

Warisan perjuangan para tokoh bangsa (pemikir bangsa di berbagai bidang) seakan-akan tidak dijaga dan dihargai. Bahkan, mereka nyaris tidak lagi menjadi soko guru bangsa. Karena itu, generasi bangsa tidak bisa meresapi semangat perjuangan mereka. Sehingga, Indonesia akan berada jauh dari tempat yang dicita-citakan.