Monday, July 13, 2015

Kegiatan Bedah Buku

DARI CAKALANG PAMPIS SAMPAI CABE-CABEAN*

Apa yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar kata Cakalang Pampis? Bayangan anda tentu tidak jauh dari makanan khas Manado yang pedas dan menggugah selera. Namun bayangan tersebut akan segera buyar ketika anda membaca buku “Dari Cakalang Pampis Sampai Cabe-cabean” karangan Baby Jim Aditya.

Dalam buku ini Baby Jim menarasikan kisah para perempuan korban kekerasana seksual yang selama ini justru sering mendapatkan stigma dari masyarakat. Salah satu kecenderungan yang terjadi pada para korban adalah penghakiman dari para peremuan lainnya, contohnya para istri yang menyalahkan pelaku prostitusi atau ibu yang menyalahkn anak perempuannya yang diperkosa. Kondisi tersebut menyiratkan siklus kekerasan yang akan terus dialami korban.

Baby Jim selaku penulis mengungkapkan, untuk memutus rantai kekerasan ini kita harus fokus pada pelaku, bukan hanya perempuan yang notabene korban. “Alangkah baiknya kita mensosialisasikan pada anak-anak. Sosialisasi akan lebih efektif dilakukan di hulu dibanding hilir,” kata Baby Jim dalam bedah buku dari Cakalang Pampis Sampai Cabe-Cabean yang diselenggarakan Megawati Institute pada 5 Juni 2015, di Jakarta.

Menurut Direktur Eksekutif Megawati Institute Prof. Dr. Musdah Mulia, MA, kecenderungan perempuan selalu menyalahkan perempuan lainnya disebabkan oleh pendidikan kita yang masih patriarkal dan selalu memberikan stigma. “Seaharusnya kita juga melihat dari sisi laki-lakinya secara proposional dan logis. Salah satunya pendidikan agama yang seharusnya membuat kita berpikir rasional dan kritis, bukan pendidikan yang hanya berisi dogma-dogma dan hafalan,” ungkap Musdah yang juga merupakan guru besar di UIN Jakarta.

Nara sumber lain dalam acara bedah buku tersebut, Dr. Seto Mulyadi, M.Psi mengungkapkan pendidikan dalam keluarga merupakan benteng pertama yang menghindarkan anak dari kekerasan seksual. “Keluarga haruslah menunjukan cinta yang tidak hanya dengan kata-kata tapi juga pelukan, ciuman dan belaian kepada anak. Bentakan merupakan bentuk kekerasan yang merusak karakter anak-anak sampai dewasa,” tegas Seto yang juga merupakan psikolog anak di KPAI.

*Artikel ini dimuat dalam www.megawatiinstitute.org 

No comments:

Post a Comment