Saturday, August 29, 2015

Membebaskan Anak dari Siklus Kekerasan

Hari Anak Nasional (HAN) baru saja diperingati satu hari yang lalu (11 Agustus). Diperingati dengan seremonia rutin, kita mungkin belum lupa proses peradilan kasus kematian Angeline di Bali belum selesai. Namun kekerasan serupa nyaris menimpa AL (6) di Gresik yang disiksa oleh bibinya lantaran menggunakan cat kuku. Kasus kekerasan terhadap anak sepertinya masih cenderung berlangsung. Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2010-2014 mencapai 21,6 juta kasus. Sedangkan dari Januari hingga Mei 2015, KPAI sudah menerima 500 laporan kasus kekerasan terhadap anak 

Setidaknya ada dua kondisi yang perlu diwaspadai kemudian. Pertama, anak korban kekerasan berpotensi menjadi pelaku kekerasan. Kedua, tidak adanya perubahan persepsi dari pelaku kekerasan ketika usai menjalani masa hukum pidana dan kembali ke masyarakat. Jika tidak mendapatkan penanganan yang serius, kondisi ini akan menciptakan siklus kekerasan yang mengancam generasi penerus bangsa. 

Baik korban maupun pelaku sama-sama membutuhkan pendampingan dan konseling. Jika pemerintah dan masyarakat telah menaruh perhatian besar dalam penanganan korban kekerasan terhadap anak, tidak demikian terhadap pelaku. Rehabilitasi sosial, kejiwaan, dan perilaku kepada para pelaku kekerasan terhadap anak masih minim. Akibatnya, kekerasan rentan terulang (Kompas, 24 Juli 2015).

Monday, August 24, 2015

Jati Diri Komik Indonesia

Memasuki era millennium, komik Indonesia kembali bergeliat di pasar lokal. Kebebasan informasi dan runtuhnya rezim Orde Baru telah memberikan kemerdekaan yang bisa dirasakan oleh para penerbit. Buktinya, sejumlah penerbit besar bersedia untuk mempromosikan dan mendistribusikan hasil karya para komikus muda Indonesia.

Namun, apa yang terjadi saat kita berada di toko buku umum? Kita hanya menemukan lakon komik yang tidak ubahnya dengan manga (komik Jepang) ataupun tokoh heroik Amerika. Jika di tahun 30-an hingga 50-an, cerita legenda dan perjuangan lebih mendominasi, pada tahun 60-an hingga 70-an, tokoh pewayangan dan tema humor kritik menjadi karakteristik yang paling menonjol. Lalu, dimana identitas komik nasional kita saat ini?

Pameran komik nasional seringkali diadakan di berbagai daerah dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa komik Indonesia telah tumbuh kembali. Mengingat bahwa gambar dapat digunakan sebagai media informasi, pendidikan, propaganda, ekspresi dan hiburan, komik akan menjadi salah satu media komunikasi yang cukup penting di masa depan. Akan tetapi, informasi dan pendidikan macam apa yang akan dikonsumsi, jika komik-komik yang tersedia hanya untuk membuat generasi muda kita melupakan identitasnya?