Monday, August 24, 2015

Jati Diri Komik Indonesia

Memasuki era millennium, komik Indonesia kembali bergeliat di pasar lokal. Kebebasan informasi dan runtuhnya rezim Orde Baru telah memberikan kemerdekaan yang bisa dirasakan oleh para penerbit. Buktinya, sejumlah penerbit besar bersedia untuk mempromosikan dan mendistribusikan hasil karya para komikus muda Indonesia.

Namun, apa yang terjadi saat kita berada di toko buku umum? Kita hanya menemukan lakon komik yang tidak ubahnya dengan manga (komik Jepang) ataupun tokoh heroik Amerika. Jika di tahun 30-an hingga 50-an, cerita legenda dan perjuangan lebih mendominasi, pada tahun 60-an hingga 70-an, tokoh pewayangan dan tema humor kritik menjadi karakteristik yang paling menonjol. Lalu, dimana identitas komik nasional kita saat ini?

Pameran komik nasional seringkali diadakan di berbagai daerah dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa komik Indonesia telah tumbuh kembali. Mengingat bahwa gambar dapat digunakan sebagai media informasi, pendidikan, propaganda, ekspresi dan hiburan, komik akan menjadi salah satu media komunikasi yang cukup penting di masa depan. Akan tetapi, informasi dan pendidikan macam apa yang akan dikonsumsi, jika komik-komik yang tersedia hanya untuk membuat generasi muda kita melupakan identitasnya?


Proses propaganda memang telah terjadi di sini. Kaum muda kita cenderung tergila-gila akan perfeksionisme Jepang dengan menggambar bentuk mata yang berukuran jauh dari normal dan Heroisme Amerika dengan menggoreskan garis-garis kaku dan keras pada tubuh berotot si lakon. Secara perlahan, Doyok karya Keliek Siswoyo dan Otoy buatan Budi segera menghilang di pasaran, digantikan oleh Conan, Kenshin, Spidermen, atau Supermen.

Dwi Koendoro BR, salah satu komikus nasional, boleh saja berkilah, pengaruh Jepang yang mewarnai karya komikus Indonesia tidak perlu dikhawatirkan dengan alasan agar mereka terus berkarya. Lantas, apakah sebuah komik laik disebut komik Indonesia hanya karena dibuat oleh orang Indonesia?

Kondisi ini dapat kita umpamakan seperti orang bule’ yang ternyata berwarga negara Indonesia. Kita tak akan pernah tahu sampai si bule’ menunjukan KTP-nya. Lalu, karya apa yang dapat kita banggakan jika komik kita sekarang hanya dilabeli oleh istilah “Indonesia manga” oleh para komikus Jepang? Komikus kita saja malu menggunakan nama Indonesia sehingga harus disamarkan untuk kepentingan komersial. Lalu, bagaimana feed back dari pembacanya? Pastilah tidak jauh berbeda! Malu, malu untuk membanggakan tokoh komik nasional.

Lebih lagi, buku telaah tentang komik yang sering kita jumpai kini hanya berkisar pada ‘how to draw manga’ dan diikuti dengan bermunculannya majalah anime dan manga yang tumbuh secara sporadis. Tidak berhenti sampai di situ, sekolah dan kursus informal yang mengajarkan bagaimana menggambar manga semakin menjamur. Otomatis, buku-buku telaah komik Indonesia seperti komik Indonesia (Marcel Bonnef), Karikatur dan Politik (Augustin Sibarani), Menakar Panji Koming (Muhammad Nashir Setiawan), dan Kartun (I Dewa Putu Wijana), hanya dipandang sebelah mata.

Contohlah komikus Cina! Meskipun booming manga dan komik Amerika terjadi hampir di seluruh belahan dunia, komikus Cina tetap mempertahanakan karakteristik gambar dan tema cerita yang umumnya selalu diwarnai oleh jagat persilatan, contohnya Tony Wong dengan Tiger Wong-nya dan Wee Tian Beng yang menuangkan Shendiao Xial├╝ (Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali) karangan Jin Yung ke dalam bentuk komik.

Jika menengok dari sejarah, etnis Tionghoa juga telah lama menduduki posisi yang cukup krusial dalam dunia perkomikan nasional. Bedanya dengan komikus muda kita saat ini adalah etnis Tionghoa mampu mengasimilasikan antara budaya mereka dengan budaya Indonesia. Hasilnya, lahirlah Si Buta dari Goa Hantu (Ganes TH), Pandji Tengkorak (Hans Djaladara), Garuda Putih dan Putri Bintang (Jhon Lo), serta masih banyak lagi karya besar lainnya yang dihasilkan oleh komikus peranakan Cina.

Fiuh, bangsa kita memang selalu saja euphoria dengan produk-produk luar. Hegemoni selera pasar memang sangat mempengaruhi orientasi penerbit kita. Akhirnya, mental komikus kita hanya menjadi follower. Jangan terlalu banyak mengeluh! Meskipun sekedar jadi pengikut, toh kita masih bisa menghasilkan komik kan! Akhirnya ita harus mengakui, jati diri komik Indonesia, cuma jadi follower.

*Tulisan ini dibuat September 2008

No comments:

Post a Comment