Friday, October 16, 2015

Gender Ke-3 Sebagai Bentuk Politik Identitas


Sumber: dok. pribadi
Studi politik identitas telah menjadi mata kuliah wajib di hampir seluruh jurusan ilmu politik Indonesia. Dari sekitar 47 jurusan ilmu politik yang ada di negeri ini, tidak banyak yang menyediakan ruang bagi diskursus mengenai jender ke-3 dalam studi politik identitas. Salah satu kampus yang membuka ruang diskursus tersebut adalah jurusan ilmu politik Universitas 17 Agustus 1945 (UTA) Jakarta. Melalui surat undangan yang dikirim Ketua Program Studi Ilmu Politik Ibu Restu Rahmawati per tanggal 5 Oktober 2015, UTA Jakarta menawarkan saya untuk memberikan materi kuliah umum bertema “Gender ke-3 sebagai Bentuk Politik Identitas”.

Saya merasa, penawaran tersebut cukup penting untuk memberikan gambaran yang objektif tentang apa itu jender ke-3 dan bagaimana kondisinya di masyarakat kita. Pasalnya, masyarakat selama ini masih menganut pemahaman jender yang biner, yaitu laki-laki dan perempuan. Bahkan, istilah jender sendiri sering kali ditanggapi salah kaprah dengan membatasinya pada persoalan perempuan semata. Hal ini terbaca dari cara pandang kebanyakan laki-laki yang melihat bahwa persoalan jender adalah persoalan perempuan. Kondisi ini juga terlihat pada peserta yang hadir dalam diskusi-diskusi terkait jender yang kebanyakan hanya dihadiri oleh perempuan.