Monday, September 26, 2016

Contestation of Moderate Islamic Identity in Southeast Asia

In Southeast Asia, there are two countries with a Muslim majority population. Those are Indonesia and Malaysia. In recent years, both of them show their moderate Islamic identity in their foreign policy. Basically, Indonesia is not a country that based on Islam,though their Muslim population is the largest in Southeast Asia and the world. Meanwhile, Malaysia is identically an Islamic state. 

In order to get better understanding of the reflection of moderate Islamic identity in both countries, this paper uses qualitative methods within the framework of a comparative study. The result of research show that global war on terror has led contestation moderate Islamic identity between Indonesia and Malaysia. Those two largest Muslim countries in Southeast Asia had not previously been vying to show moderate Islamic identity. 

The other result of this study is both Indonesia and Malaysia have domestic modal of moderate Islamic character where the imaging applications in the realm of foreign policy have done differently. Representation of moderate Islamic identity was associated with the achievements of both countries to get closer to the West and the Islamic world. 

Keywords: competition, identity, foreign policy, Indonesia, Malaysia.


KONTESTASI IDENTITAS ISLAM MODERAT DI ASIA TENGGARA

Di Asia Tenggara, ada dua negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Mereka adalah Indonesia dan Malaysia. Dalam beberapa tahun terakhir, keduanya menunjukkan identitas Islam moderat dalam kebijakan luar negerinya. Pada dasarnya, Indonesia bukanlah negara yang berdasarkan Islam, meskipun populasi Muslimnya merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan dunia. Sementara itu, Malaysia adalah negara yang identik dengan Islam. 

Dalam rangka untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari refleksi identitas moderat di kedua negara, makalah ini menggunakan metode kualitatif dalam kerangka studi banding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perang global melawan teror telah menyebabkan kontestasi identitas Islam moderat antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara Muslim terbesar di Asia Tenggara tersebut sebelumnya tidak pernah berlomba-lomba untuk menunjukkan identitas Islam moderat. 

Hasil lain dari penelitian ini adalah Indonesia dan Malaysia memiliki modal domestik dari karakter Islam moderat di mana aplikasi pencitraan di ranah kebijakan luar negeri dilakukan secara berbeda. Representasi dari identitas Islam moderat berkaitan dengan capaian kedua negara untuk lebih dekat dengan Barat dan dunia Islam.

Kata kunci: kompetisi, identitas, kebijakan luar negeri, Indonesia, Malaysia. 


Pendahuluan

Dalam hubungan internasional, negara membutuhkan identitas untuk menunjukkan eksistensi dan pembeda dari negara lainnya. Selain membentuk kepentingan nasional, identitas juga menentukan nilai-nilai yang menjadi pedoman suatu negara dalam bertingkah laku di tataran internasional. 

Identitas pun menyediakan referensi dalam membangun suatu hubugan antar negara, apakah itu kawan ataupun lawan. Karena itu, identitas sering kali dituangkan dalam kebijakan luar negeri sebagai atribut yang melekat kuat pada citra negara. 

Sebagai sistem nilai sosial dan kepercayaan, identitas agama kian menonjol baik dalam kehidupan domestik maupun internasional. Dalam hubungan internasional saat ini, signifikansi agama terletak pada pengaruh politiknya. Agama memiliki potensi besar dalam mempengaruhi kehidupan ber-negara dan berhubungan antar negara (Nair, 1997). 

Islam khususnya, menjadi sorotan tajam dalam tiap diskursus kontemporer. Islam memiliki dua relevansi dengan hubungan internasional. Pertama, secara doktrinal banyak kalangan Muslim meyakini bahwa Islam bukan hanya agama universal yang benar dan final, tapi juga dianggap sebagai fondasi bagi konsepsi akan suatu sistem internasional (Sheikh, 2003). 

Internasionalisasi konsep ini berhubungan dengan pandangan kalangan Muslim akan sistem dunia yang terbagi dalam dua bagian yaitu, Dar-al-Islam (daerah Islam) dan Dar-al-Harb (daerah perang). Kedua, secara fenomenologis relevansi Islam dengan hubungan internasional dapat dilihat menjelang berakhirnya Perang Dingin yang menganggap Islam sebagai bahaya laten seperti halnya komunisme. 

Klimaksnya terjadi ketika peristiwa serangan World Trade Center (WTC) yang membawa politik internasional dalam perang global terhadap teror. 
Perang  global terhadap teror yang diwarnai operasi militer di Afghanistan dan Irak ternyata berkembang menjadi perasaan anti Islam di dunia Barat. Hal ini ditandai dengan banyaknya persepsi masyarakat Barat yang menempatkan Islam sebagai musuh bersama (Shadid dan Koningsveld, 2002). 

Untuk menanggapinya, dunia Muslim cenderung melakukan protes dan kecaman, tidak terkecuali komunitas Muslim di Asia Tenggara. Namun, reaksi protes komunitas Muslim di kawasan ini relatif terbatas. Hal ini terlihat dari respon dua negara berpenduduk Muslim terbesar di kawasan, yaitu Indonesia dan Malaysia.

Pada kasus Malaysia, pemerintah berupaya mengatur dan mengendalikan protes dengan mengambil langkah-langkah proaktif untuk memastikan bahwa perang di Irak tidak diarahkan terhadap Islam. Faktor lain yang membatasi dampak operasi militer di Irak dan Afghanistan terhadap kawasan adalah preferensi publik secara luas yang memprioritaskan isu domestik sehingga menutup isu internasional. 

Di Indonesia khususnya, perubahan iklim politik akibat peristiwa bom Bali 12 Oktober 2002 mengubah aksi massa oleh kelompok radikal menjadi kurang dapat diterima. Secara komprehensif, Angel M. Rabasa menyebut reaksi Muslim di kawasan ini relatif moderat (Rabasa, 2004). 

Dalam perkembangannya, baik Indonesia maupun Malaysia nampak berlomba-lomba dalam mempromosikan kemoderatan Islam di tingkat regional maupun global. Bahkan keduanya seperti tengah melakukan kontestasi dalam merepresentasikan identitas Islam moderat. 

Gejala tersebut semakin terlihat dalam satu dekade terakhir melalui sejumlah forum, seperti Bali Democracy Forum (BDF) yang diinisiasi Indonesia dan Global Movement of Moderates (GMM) yang merupakan inisiasi Malaysia. Dari sinilah muncul pertanyaan, mengapa terjadi kontestasi dalam merepresentasikan identitas Islam moderat antara Indonesia dan Malaysia?

Untuk membaca seluruh tulisan, silakan download di sini

No comments:

Post a Comment