Tuesday, December 6, 2016

Proteksi Maskulin dalam Sistem Internasional

Paradigma feminis masih belum populer dalam studi Hubungan Internasional (HI) di Indonesia. Hal ini mungkin karena tidak banyaknya akademisi HI yang menaruh perhatian dalam isu gender dan perempuan. Akibatnya, persoalan gender dan perempuan lebih banyak diketahui dari kasus-kasus perdagangan manusia (human trafficking) daripada dipahami dari sudut pandang feminis.

Salah satu konsep yang digunakan feminis dalam membedah kasus perdagangan manusia, khususnya perempuan adalah proteksi maskulin. Logika ini pada dasarnya diasumsikan oleh laki-laki yang menganggap diri sebagai pemegang peran proteksi. Hal ini kemudian menempatkan pihak di bawah perlindungannya, yaitu perempuan dan anak-anak, sebagai subordinat (Iris Marion Young, 2003).

Proteksi maskulin secara sadar berusaha menguasai perempuan secara seksual. Hal ini merupakan bentuk gratifikasi dan keuntungan atas dominasi yang mereka miliki. Untuk tetap mendapatkan keuntungan spesifik tersebut, laki-laki membangun ikatan persaudaraan dengan mengecualikan perempuan. Mereka mengganggu perempuan untuk mempertahankan pengecualian tersebut dan menjaga superioritasnya (Catharine MacKinnon, 1987; Larry May, 1998).