Monday, December 4, 2017

Luluran Seksis ala Ridwan Kamil

Lulur bisa jadi merupakan komoditas yang paling diminati perempuan saat ini. Hal itu bukan karena iklan produk yang sering muncul di media cetak ataupun elektronik, tapi itu lebih karena promosi berkelanjutan Ridwan Kamil di media sosial.

Bagimana tidak berkelanjutan? Setelah Ridwan Kamil mengunggah foto Instagram (15/11) dengan caption “Dibalik kerja para lelaki ini, ada wanita rajin luluran dan perawatan yang setia menyemangati … Bersyukurlah bukan lelakinya yang rajin luluran,” ia lantas mendapat like lebih dari 200 ribuan. Itu baru like, belum capture foto yang dibagi berkali-kali.

Ternyata posting tersebut mendapat tudingan seksis dari kalangan aktivis perempuan dan feminis. Ridwan Kamil pun berusaha menampik tudingan tersebut dengan mengunggah foto (24/11) si Cinta yang diedit bertumpuk. Lagi-lagi, ia menyinggung soal luluran dalam captionnya.


”Saya sangat peduli dengan potensi perempuan untuk berkemajuan. Itulah saya sebagai suami mengizinkan dan mendukung @ataliapr untuk studi S2 magister (lulus terbaik pula). Bahkan akan lanjut S3 doktoral. Di dalam tanggung jawabnya sebagai ibu yang merawat anak-anak, saya pun mengizinkan istri saya menjadi ketua lebih dari 6 organisasi, baik organisasi pemerintah ataupun nirlaba. Saya sering ajak si Cinta nonton bola ke stadion, saya ajak olah raga ekstrim main panjat gedung, ataupun arung jeram. Sesuatu yang mungkin oleh sebagian dianggap dunia lelaki. ITU karena saya sangat menghormati perempuan zaman now. Namun hidup harus tetap seimbang. Istri harus ada sebagai makmum, berdiri mendampingi suami sang imam keluarga, karena itu syariatnya ijab kabul Islami. Jika saya menuntut istri saya untuk fokus mengurus keluarga dan menyuruh istri saya untuk rajin ke salon luluran, meminta ia merawat tubuh dan wajahnya agar selalu kinclong dan bersih, itu karena sudah bagian dari kodrat statusnya, agar saya selalu jatuh cinta setiap hari kepadanya, bukan karena berpikiran #seksis yang juga masih debateble juga definisinya. Hatur Nuhun.”

Alih-alih menghapus tudingan seksis, respon Ridwan Kamil kali ini justru berbuntut panjang. Para penggemar Ridwan Kamil yang notabene warga Bandung beradu komentar dengan para aktivis perempuan dan feminis di dunia maya. Kalau memang Ridwan Kamil tidak seksis, ada beberapa hal yang perlu dicamkan para penggemarnya.

Dari caption di atas tersirat, wahai para istri segeralah kamu luluran agar suamimu tetap cinta. Sedangkan untuk para jomblowati juga bersegeralah luluran, supaya kamu cepat mendapat suami yang mencintaimu.   

Jadi ingat-ingatlah para istri, jika kamu tidak luluran dan tampak jelek sehingga menjatuhkan harga diri suami, bersiap-siaplah kehilangan cinta suami dan mungkin malah kehilangan status sebagai istri. Dalam hal ini, luluran ataupun menjaga kecantikan merupakan mandatory clause (klausa wajib) yang harus dijalankan seorang istri. Dengan kata lain, istri tidak boleh tampil apa adanya. 

Saran Ridwan Kamil yang mengingatkan perempuan untuk luluran terbilang wajar. Kok malah dikatakan seksis sih? Ah, mereka yang menuding Ridwan Kamil seksis itu cuma aktivis feminis yang tidak bisa luluran rutin atau mereka yang jomblo ngenes. Makanya mereka jadi nyinyir.

Ridwan Kamil ini laki-laki langka. Meski jaman sudah maju, jarang ada laki-laki yang mempersilakan istrinya kuliah setinggi-tingginya. Dia jelas-jelas membolehkan Si Cinta mengambil jenjang pendidikan sampai doktoral. Kok masih dikatakan seksis sih?

Perempuan sudah mendapat hak istimewa dari suami; sudah dibolehkan sekolah tinggi; menikmati perawatan rutin. Sudah kodratnya dong perempuan manut sama lakinya. Kalau suami mengajak nonton bola, ya harus ikut. Kalau suami mengajak main panjat gedung atau arung jeram ya kudu serta. Apalagi kalau suami mengajak hubungan intim, perempuan wajib mengiyakan.

Ingat ya perempuan, kalian harus iya saja ketika suami memberikan perintah. Karena kalian makmumnya para lelaki. Tahu dirilah, kalian hanya mahluk sekunder.

Ridwan Kamil itu pria idaman para mojang Bandung, malah mungkin seJawa Barat. Banyak dari perempuan yang ada di Bandung dan sekitarnya berharap punya suami kayak Ridwan Kamil. Kalaupun tidak bisa memiliki suami kayak doi, minimal mereka mendapat kepala daerah seperti dialah.

Coba bayangkan. Di Indonesia, Ridwan Kamil itu satu-satunya kepala daerah yang jelas-jelas punya niatan dan program pengentasan kejombloan. Untuk voter perempuan yang masih menyandang status jomblo, Ridwan Kamil ini mungkin calon gubernur yang pas bangetlah buat kalian.

Buat perempuan, menikah itu lebih baik karena status jomblo rentan akan fitnah dan stigma. Mengingat penghapusan kekerasan seksual belum diundangkan apalagi diatur dalam perda, perempuan disarankan untuk segera menikah. Minimal, mereka punya pelindung dari aksi-aksi pelecehan seksual ataupun catcalling di ruang publik.

Kali aja kalian bisa dapat suami kayak Ridwan Kamil. Kalau kalian tidak dapat pasangan seromantis dia, ya nasib kalian saja memang sial. Kalian juga tidak perlu kebanyakan protes kalau mengalami KDRT. Visi Ridwan Kamil itu cuma sampai pada masalah pengentasan kejombloan, bukannya perlindungan terhadap perempuan. Karena setelah perempuan menikah, dia menjadi milik suaminya. Selayaknya properti, ia bisa diperlakukan sesukanya. Jadi meningkatkanya kasus KDRT di Bandung juga bukan tanggung jawab doi.

Kalau para aktivis feminis itu masih mengatakan Ridwan Kamil seksis, mereka sungguh keterlaluan. Dia jelas-jelas memperhatikan pemberdayaan perempuan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2014- 2018, posisi perempuan betul-betul dilihat pada partisipasi kerja belaka.

Tapi sekali lagi ingatlah perempuan, meski kamu diperbolehkan bekerja ataupun berpendidikan tinggi, “kodrat” kamu tetaplah mengurus rumah tangga dan anak-anak. Kalau kamu merasa memikul beban ganda karena harus bekerja dan mengurus rumah tangga, kamu tidak perlu mengeluh. Keputusan itu toh sudah menjadi pilihan kamu.

Pemerintah daerah apalagi seorang Ridwan Kamil tidak bertanggung jawab atas penghapusan beban ganda yang dipikul perempuan. Karenanya, ia tidak perlu memikirkan solusinya. Ia bukan nabi yang berperan dalam menyebarkan nilai-nilai kesetaraan. Ia hanya pejabat publik yang kebetulan aktif di media sosial.

Secara keseluruhan, Ridwan Kamil tetap layak mendapat penghargaan ‘He for She’ 2016. Pasalnya, dia aktif mengkampanyekan rasa aman dan nyaman bagi perempuan lewat aksi-aksi mesra dengan si Cinta di media sosial. Aksi romantis di ranah domestik ini memang lebih utama diperlihatkan, dibanding aksi-aksi pro perempuan di ranah kebijakan. Karena dalam political marketing, romantisme dengan pasangan dapat memenuhi imaji para konstituen perempuan akan laki-laki yang sempurna untuk memimpin mereka.   

1 comment:

  1. Saya ingin memberikan tepuk tangan dan apresiasi kepada Kak Lelly untuk tulisan ini. Terus menulis Kak, karena tulisanmu menggugah hatiku :")

    ReplyDelete