Tuesday, November 6, 2018

Upaya Santriwati Melawan Hoaks

Saat ini, Indonesia tengah menghadapi disruption era di mana segala sesuatu dapat menjadi viral hanya dalam hitungan detik. Era ini memang memberi kemudahan kepada setiap orang untuk melakukan apa pun di dunia maya, termasuk media sosial. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga bisa berbahaya, terlebih lagi jika arus informasi berantai yang tersebar di media sosial tadi memuat ujaran kebencian dan hoaks. 

Hal itu tentu mengancam rasa kebhinekaan, kerukunan, dan persatuan bangsa. Tidak sedikit orang yang menjadi korban dari arus informasi berantai yang memuat ujaran kebencian dan hoaks di media sosial. Padahal, arus informasi berantai sulit dipertahankan keasliannya karena infonya bisa berkurang atau bertambah. Semua bergantung pada penerima pesan yang meneruskannya. 

Terkait hal ini, perempuan menjadi pihak yang mudah terhasut informasi yang bermuatan kebencian dan hoaks. Salah satu penyebabnya adalah beban sosial-kultural yang ditanggung perempuan cenderung menggerus minat mereka untuk melakukan konfirmasi ulang atas kebenaran suatu informasi. Tidak sedikit perempuan bersikap ekstrem dan radikal saat merespon informasi bermuatan hoaks dan kebencian bernuansa SARA.

Tuesday, October 9, 2018

Menghancurkan Stigma Pendidikan Vokasi di Indonesia

Pendidikan vokasi merupakan jurusan yang paling realistis bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi pasar bebas tenaga kerja. Tingginya permintaan tenaga kerja terampil di sejumlah negara-negara maju berpotensi menyerap besarnya angkatan kerja di tanah air. Sedang di dalam negeri sendiri, peluang kerja yang tersedia bagi lulusan vokasi juga terbilang luas. Pasalnya, lulusan vokasi memiliki kualitas yang dibutuhkan oleh kebanyakan industri seperti manufaktur, kesehatan, pariwisata, agribisnis, pekerja migran, dan ekonomi digital.

Sayangnya, pendidikan vokasi masih dianggap sebelah mata. Secara umum ada dua padangan peyoratif terhadap lulusan pendidikan vokasi. Pertama, pendidikan vokasi masih dianggap sebagai jurusan yang tidak prestisius. Saya pribadi sempat mendapatkan cibiran oleh keluarga ketika menceritakan tentang keinginan anak saya yang ingin menekuni dunia pastry. Menurut mereka, tidak sepatunya saya dan suami yang kebetulan lulusan pascasarjana, berencana menyekolahkan anak pada jenjang pendidikan vokasi. 

Kebanyakan orang Indonesia berasumsi lulusan vokasi hanya dapat menempati posisi teknis ketika terjun di dunia kerja. Bahkan, asumsi seperti ini mulai mendiskreditkan mereka sejak masih berstatus mahasiswa. Dalam laporan tirto.id, ketua BEM Vokasi UI mengeluhkan diskriminasi terkait kepanitiaan sering terjadi dalam penyelenggaraan acara-acara kampus. Kebanyakan mahasiswa vokasi selalu ditempatkan pada divisi-divisi teknis, sepert medis, keamanan, dan logistik. Sedangkan divisi-divisi yang dianggap bergengsi seperti acara dan sponsor selalu diisi oleh mahasiswa jenjang sarjana.

Monday, July 30, 2018

Perempuan dan Simpanan Hari Tua

Sebagai ibu, perempuan kerap mendapat julukan menteri keuangan keluarga. Dialah yang berperan mengatur kecukupan dan kebutuhan rumah tangga. Jika dirasa pendapatan keluarga lebih besar pasak daripada tiang, dia memutar otak untuk melakukan penghematan atau kalau perlu dia akan turut bekerja untuk memperkuat finansial keluarga. 

Sayangnya, kecakapan perempuan tersebut sering kontras dengan kealpaan dirinya dalam menyiapkan masa tua yang sejahtera. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. 

Pertama, kondisi sosiokultural Indonesia memang tidak mendorong pola pikir perempuan mengenai pentingnya perencanaan untuk memiliki simpanan hari tua. Pasalnya, perempuan selalu ditempatkan pada posisi dependen dengan yang lain. Ketika memasuki usia senja, banyak perempuan akhirnya bergantung pada dana pensiun milik suami ataupun pemberian dari anak-anak mereka.

Monday, July 23, 2018

Membangun Kecerdasan Literasi Anak

Sumber: dok. pribadi.
Orangtua umumnya memaknai kecerdasan literasi dalam arti sempit, sebatas kemampuan baca, tulis, dan hitung (calistung). Hal ini kemudian membuat mereka berasumsi semakin dini anak menguasai calistung, maka makin mudah pula ia dapat membangun prestasi akademiknya. Pada akhirnya, label anak cerdas tersandera pada prestasi akademik semata.

Untuk memenuhi kebanggaan akan kepemilikan anak cerdas, para orangtua pun berlomba-lomba memasukan anak-anaknya lebih dini ke sekolah. Pelaku pasar ikut menanggapi derasnya permintaan para orangtua dengan mendirikan lembaga-lembaga kursus calistung yang diperuntukkan bagi anak-anak balita.

Padahal, literasi bukan sekedar bisa calistung. Lebih luas lagi, kecerdasan literasi adalah kemampuan individu untuk mengenali dan memahami ide-ide ataupun makna dalam bahasa sehingga ia mampu memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Lalu bagaimana kecerdasan literasi anak-anak kita jika pengertian tersebut direfleksikan pada kondisi Indonesia dewasa ini?

Thursday, May 31, 2018

Menulis Bagi Perempuan

Jika menulis itu mudah, pasti sudah banyak perempuan yang jadi kolumnis, jurnalis, atau profesi lainnya yang menuntut keterampilan ini. Menulis tidak pernah segampang hal-hal teknis seperti yang diungkapkan Ongky Arista UA, terlebih bagi perempuan.

Dalam buku berjudul Jejak Jurnalis Perempuan, jumlah jurnalis perempuan ternyata hanya sekitar 18,6 persen dari 1.868 anggota Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Bahkan dalam obrolan santai saya dengan Prof. Dr. Musdah Mulia, jumlah profesor perempuan di Indonesia kurang dari 10 persen.


Tendensi perempuan yang saya bicarakan di sini tentu berkaitan erat dengan konteks urban. Hal ini perlu saya jelaskan dari awal karena perbedaan tingkat pendidikan, kebutuhan, tuntutan sosial, dan akses informasi memiliki dampak yang berbeda pada sosio-psikologis perempuan.



Friday, March 30, 2018

The Power of Emak-emak dalam Narasi Radikalisme

Tiap kali mendengar kata emak, kita selalu membayangkan sosok keibuan yang penuh kasih sayang. Namun bayangan itu sekejap sirna ketika kita dihadapkan pada istilah the power of emak-emak yang begitu populer belakangan.

Istilah tersebut lahir dari fenomena perempuan urban yang berani mengekspresikan perlawanannya di ruang publik. Meski kadang kala keberanian ini terkesan nekat, emosional, ekstrem dan malah radikal.


Sebagai ibu, saya merasa risih dengan istilah the power of emak-emak. Alih-alih memperlihatkan kemampuan ibu untuk melawan, ungkapan tersebut justru menjadi lelucon peyoratif terhadap perempuan. Secara eksplisit, istilah itu seperti berusaha mengakui kemampuan perempuan yang selama ini dipandang lemah dan tidak berdaya.

Wednesday, February 28, 2018

Hilangkan Kecanduan Gadget pada Balita dengan Kertas

Teknologi digital memang sudah menjadi bagian dari pola asuh anak dalam sepuluh tahun belakangan ini. Bahkan banyak orang tua zaman sekarang membekali anak-anak mereka dengan gadget, meski usia anaknya masih terbilang balita. Alasannya sederhana, "Biar anteng."

Alasan itulah yang sering kali digunakan orang tua dalam menghadapi balita yang cenderung aktif. Padahal penggunaan gadget pada balita lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya. Setidaknya ada empat bahaya yang menghantui balita pengguna gadget.


Pertama, gangguan perkembangan kognitif balita. Banyak penelitian menunjukan pemakaian gadget yang berlebihan akan meperlambat perkembangan otak anak, defisit perhatian, dan gangguan pendengaran. Dalam pemberitaan Kompas Jumat (5/1), tingkat IQ anak-anak pengguna gadget di Skandinavia dan Inggris mengalami kemerosotan bertahap.

Friday, January 19, 2018

Buku Gratis Bagi Komentar Terbaik

Bagi pelajar dan mahasiswa, membaca dan menulis sudah menjadi suatu keharusan. Kemudahan akses dan ketersediaan referensi yang beragam menjadi kebutuhan yang mendesak. 

Sayangnya, masih banyak pelajar dan mahasiswa di Indonesia kesulitan memperoleh akses dan referensi yang dibutuhkan. Hal ini kerap melunturkan semangat mereka untuk belajar. Akibatnya, sensibilitas literasi generasi muda menjadi lemah. 

Untuk meningkatkan semangat baca dan jiwa literasi generasi muda, penulis ingin membagikan satu (1) buah buku Memoria Indonesia Bergerak secara gratis. Buku ini diperuntukan bagi lima (5) follower dengan komentar terbaik. 

Adapun syarat dan ketentuan untuk mendapatkan buku gratis adalah sebagai berikut:

1. Follow atau ikuti blog www.simplylelly.com;
2. Beri komentar pada salah satu tulisan di tahun 2017 dan 2018;
3. Komentar dimuat sebelum tanggal 1 Oktober 2018;
4. Follower dengan komentar terbaik akan diumumkan pada 5 Oktober 2018
5. Follower yang mendapatkan buku gratis dapat menghubungi penulis via email lelly15a@gmail.com 

Maria Ullfah dan Pemberdayaan Perempuan dalam Pernikahan

Pernikahan adalah norma yang berlaku umum di Indonesia. Bagi perempuan di negeri ini, pernikahan menjadi sebuah keharusan. Pernikahan bukan sekadar persoalan biologis, agama, dan tradisi, tapi juga status sosial. Menurut Julia Suryakusuma, pernikahan bagi perempuan berarti memperoleh status dewasa dan memberikan semacam kebebasan serta lisensi sosial (2011: 54). 

Bahkan, pernikahan sering kali dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar dari berbagai macam keterbatasan yang menghimpit perempuan, mulai dari tradisi, agama, hingga kebutuhan ekonomi. Gagasan tentang pernikahan itu ditanamkan pada perempuan muda sebagai tujuan dan kebahagiaan yang harus mereka kejar. Hidup mereka pun seolah-olah tidaklah sempurna tanpa pernikahan.

Namun, gagasan itu sering kali melahirkan praktik-pratik yang memojokkan perempuan. Beberapa di antaranya adalah kawin paksa, pernikahan dini, dan poligami. Praktik-praktik yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini sengaja dilakukan untuk tujuan memenuhi kepentingan biologis dan kepentingan mendapatkan ahli waris atau keturunan.