Friday, March 30, 2018

The Power of Emak-emak dalam Narasi Radikalisme

Tiap kali mendengar kata emak, kita selalu membayangkan sosok keibuan yang penuh kasih sayang. Namun bayangan itu sekejap sirna ketika kita dihadapkan pada istilah the power of emak-emak yang begitu populer belakangan.

Istilah tersebut lahir dari fenomena perempuan urban yang berani mengekspresikan perlawanannya di ruang publik. Meski kadang kala keberanian ini terkesan nekat, emosional, ekstrem dan malah radikal.


Sebagai ibu, saya merasa risih dengan istilah the power of emak-emak. Alih-alih memperlihatkan kemampuan ibu untuk melawan, ungkapan tersebut justru menjadi lelucon peyoratif terhadap perempuan. Secara eksplisit, istilah itu seperti berusaha mengakui kemampuan perempuan yang selama ini dipandang lemah dan tidak berdaya.


Namun secara implisit, the power of emak-emak memuat cap dan stereotip. Maksud cap di sini ditujukan kepada para perempuan yang dianggap galak, tidak peduli apakah mereka masih melajang atau sudah menikah. Sedangkan stereotip muncul dari anggapan bahwa emak-emak sudah sewajarnya galak, tukang mengamuk, ekstrem dan radikal.


Kok bisa emak-emak jadi radikal? Apa saja sih yang termasuk dalam kategori the power of emak-emak? Dari berbagai meme the power of emak-emak yang wira-wiri di media sosial, saya menemukan dua konteks umum yang menyebabkan kaum ibu mendapatkan label ini. Konteks pertama berkaitan dengan dinamika perubahan dan tingginya rasa kompetisi di wilayah perkotaan.


Dimensi ini mendorong emak-emak untuk bersikap pragmatis. Mereka sering bertingkah seenaknya, terlebih saat menggunakan fasilitas umum. Salah satunya terlihat dari aksi mereka yang kerap melanggar aturan lalu lintas, seperti berkendara dengan melawan arus jalan; berboncengan lebih dari dua penumpang; menyalakan lampu sen kiri tapi malah berbelok ke kanan.


Tidak hanya itu, mereka juga berani melawan aparat penegak hukum meski tindakannya jelas melanggar peraturan. Dalam video Youtube berjudul “Emak-emak vs Polisi” misalnya, nampak seorang ibu tengah menyerang polisi yang menegurnya tanpa mempedulikan kemacetan yang ditimbulkan dari aksi tersebut.


Pelanggaran lalu lintas memang umum dilakukan, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Namun hal ini bisa jadi berbeda jika pelakunya adalah emak-emak. Kenekatan mereka yang melampaui batas nalar kerap membuat orang enggan menegur ataupun berurusan dengan mereka. Terkait hal ini, ada satu kalimat retorik yang sering saya dengar, “Siapa yang berani lawan emak-emak?”


Retorika itu menyiratkan asumsi yang diamini banyak orang; emak-emak selalu merasa dirinya benar atau setidaknya mereka butuh pembenaran. Secara psikologis, emak-emak yang merasa dirinya selalu benar adalah mereka yang tengah mengidap gejala ibu narsistik (narcissistic mother).


Emak-emak dengan kejiwaan narsistik berjuang untuk menjadi pemenang meski harus menyakiti orang lain. Mereka tidak peduli apakah upaya itu dilakukan di ruang domestik ataupun di ruang publik. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai motif awal yang berpotensi mengarahkan kaum ibu untuk bertindak ekstrem hingga radikal.


Tindakan tersebut berlanjut pada konteks berikutnya, yakni politik identitas. Dalam suasana pesta demokrasi, politik identitas merupakan isu yang paling mudah ditonjolkan. Politik jenis ini tidak hanya membangun kesadaran dikotomis, tapi juga menempatkan pihak yang berbeda sebagai musuh bersama. Pada titik inilah potensi ekstremisme dan radikalisme emak-emak dapat muncul.


Pada isu identitas gender ketiga contohnya, ekstremisme emak-emak mengarah pada aksi persekusi. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana warga net menyaluti aksi labrak LGBT yang dilakukan ibu bernama Sri Mulyani sebagai the power of emak-emak. Meski demikian, aksi viral ini berujung pada permohonan maaf sang ibu kepada dua kakak beradik yang menjadi korban salah sasaran.


Sedangkan radikalisme emak-emak dapat dengan mudah kita temukan pada identitas keagamaan, khususnya sejak dimulainya Aksi Bela Islam pada 2016. Keikutsertaan Ahok pada Pilkada DKI telah menguatkan rasa identitas Islam politik umat Muslim. Dalam wacana di ruang majelis taklim dan media sosial, pandangan perempuan Muslim umumnya mengekor pada ustad atau ustadzah yang menjadi patron mereka.


Tidak peduli apakah mereka berpendidikan tinggi atau rendah, bekerja ataupun ibu rumah tangga, semuanya mendukung arus utama Islam Politik yang tidak menginginkan pemimpin di luar kalangan Muslim. Mereka juga menuntut penghakiman terhadap orang yang dianggap menghina agama mereka.


Dalam hal ini, para emak condong berpikiran konservatif. Mereka pun menjadi anti kritik dan melakukan pengafiran kepada mereka yang berseberangan. Pergerakan mereka dapat dikatakan sporadis dan militan. Bahkan ada juga dari mereka yang kemudian berkumpul dan membentuk gerakan yang diberi nama Barisan Emak-emak Militan Indonesia (BEMI).


Radikalisme emak-emak memperlihatkan citra yang begitu masif di dunia maya. Akan tetapi, porsinya ternyata jauh lebih kecil dalam kehidupan nyata. Berdasarkan survei yang dirilis Wahid Institute pada akhir Januari lalu, perempuan yang tidak bersedia radikal mencapai 80,8%. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan 2,3% perempuan yang bersedia radikal.


Secara umum, hasil survei tersebut juga mengindikasikan bahwa perempuan lebih moderat dibandingkan laki-laki. Karena itulah, mereka seharusnya bisa mengambil peran sebagai penjaga perdamaian. Hal ini kontras dengan realitas bahwa besarnya jumlah perempuan moderat ternyata tidak bisa mengimbangi narasi radikalisme dari para saudarinya yang konservatif.


Kebanyakan perempuan moderat di Indonesia lebih memilih diam. Pilihan ini bukan hanya disebabkan faktor sosiokultural, tapi juga lantaran minimnya pengetahuan keagamaan yang mereka miliki. Akibatnya, mereka tidak mempunyai cukup nyali untuk menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok fanatik.


Walakin, kontribusi perempuan moderat sangat diperlukan dalam menangkal radikalisme. Bukankah partisipasi seseorang tidak harus berupa aksi di ranah publik? Bagi kaum ibu khususnya, penanaman narasi toleransi pada anak-anak jauh lebih penting dalam menciptakan generasi cinta damai. Mereka juga dapat menempa jiwa kritis pada anak dalam tradisi melek literasi.


Dalam melawan radikalisme, penggunaan kontra narasi dan narasi alternatif akan lebih mujarab jika berlandaskan pada rasa persaudarian (sisterhood) di antara perempuan. Pasalnya, kesamaan karakteristik perempuan tidak lantas selaras dengan terbangunnya rasa empati pada saudarinya. 


Hal itu karena perempuan di Indonesia lebih mengidentifikasi diri dan merasa terikat pada kondisi spesifiknya. Keterikatan itu terbangun dari relasi dengan laki-laki yang hidup bersamanya, apakah itu ayah atau suami. Relasi inilah yang kemudian menentukan kondisi perempuan dari segi status, ekonomi, tempat tinggal, dan lain-lain. Dampaknya, perempuan jadi kurang reseptif kepada sesamanya.


Saya sempat membahas masalah ini dengan sehabat saya seusai menghadiri Konferensi Nasional Pengetahuan dari Perempuan pada Oktober lalu. Saya merasa, banyak feminis muda yang menghadiri acara tersebut berlaku eksklusif. Hal ini tentu menyulitkan siapa saja yang baru mengenal isu gender.


Padahal, tiap perempuan membutuhkan dukungan sosial. Lantas bagaimana dukungan itu bisa didapatkan oleh emak-emak urban yang teralienasi di ruang domestik? Atau perempuan migran yang terasing di perantauan?


Bagi mereka, majelis taklim merupakan pilihan termudah untuk mendapat dukungan sosial. Mereka mendapatkan sambutan hangat dan menemukan ikatan kekeluargaan di dalamnya. Taklim juga menjadi tempat pelarian dari rasa alienasi dan keterasingan.


Pada kondisi ini perempuan tidak lagi peduli apakah kesantunan yang ditampilkan taklim memuat nilai-nilai radikal atau tidak. Banyak dari mereka yang kemudian tereksploitasi secara psikis dan finansial seperti dialami para deportan dan returnis ISIS yang kebanyakan perempuan.


Di situlah letak pentingnya kehadiran komunitas yang berbasis pada empati. Dalam komunitas, keberadaan silih asah asih asuh antar sesama perempuan akan memperkuat rasa persaudarian. Hal ini berguna menjaga kewarasan perempuan dalam menolak radikalisme.


Semangat persaudarian di Indonesia mungkin telah terpatri dalam organisasi keagamaan moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Namun semangat itu akan jauh lebih kuat jika para feminis bersedia menampilkan wajah yang lebih ramah sehingga dapat merangkul saudari-saudarinya yang masih terjebak dalam sistem patriarki dan pusaran radikalisme.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Qureta "Intoleransi dan Ekstremisme di Indonesia". 


No comments:

Post a Comment