Monday, July 23, 2018

Membangun Kecerdasan Literasi Anak

Sumber: dok. pribadi.
Orangtua umumnya memaknai kecerdasan literasi dalam arti sempit, sebatas kemampuan baca, tulis, dan hitung (calistung). Hal ini kemudian membuat mereka berasumsi semakin dini anak menguasai calistung, maka makin mudah pula ia dapat membangun prestasi akademiknya. Pada akhirnya, label anak cerdas tersandera pada prestasi akademik semata.

Untuk memenuhi kebanggaan akan kepemilikan anak cerdas, para orangtua pun berlomba-lomba memasukan anak-anaknya lebih dini ke sekolah. Pelaku pasar ikut menanggapi derasnya permintaan para orangtua dengan mendirikan lembaga-lembaga kursus calistung yang diperuntukkan bagi anak-anak balita.

Padahal, literasi bukan sekedar bisa calistung. Lebih luas lagi, kecerdasan literasi adalah kemampuan individu untuk mengenali dan memahami ide-ide ataupun makna dalam bahasa sehingga ia mampu memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Lalu bagaimana kecerdasan literasi anak-anak kita jika pengertian tersebut direfleksikan pada kondisi Indonesia dewasa ini?

Sumber: dok. pribadi
Berdasarkan riset Central Connecticut State University (CCSU) 2016, Indonesia menduduki posisi kedua terbawah dari 61 negara yang dinilai tingkat literasinya. Salah satu faktor penyebabnya terletak pada lemahnya tradisi literasi di negeri ini yang ditandai dengan minat baca yang rendah dan sedikitnya karya tulis yang kita hasilkan.

Indikasi lainnya tampak jelas dari fenomena kebangsaan belakangan. Kita mudah meyakini dan menyebarkan berita palsu (hoax); mengumbar dan menyulut ujaran kebencian; dan amnesia akan sejarah bangsa sendiri.

Gambaran tersebut jelas meruntuhkan asumsi dan ekpektasi kebanyakan orangtua seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Sebab, bisa membaca tidak menjamin seseorang memiliki minat baca. Tidak jauh berbeda, bisa menulis bukan berarti seseorang memiliki kemampuan untuk membuat tulisan yang bernas.

Atas dasar itulah saya merasa perlu untuk menanamkan tradisi literasi pada anak-anak saya. Karena buat saya, #AnakCerdasItu punya kemampuan (skill) literasi yang mumpuni untuk menghadapi tantangan zaman. Dalam membangun kecerdasan literasi anak, saya menerapkan keempat cara yang disesuaikan dengan jenjang usia ketiga buah hati saya yang berusia satu tahun, tiga tahun, dan tujuh tahun.

Sumber: dok. pribadi.
Pertama, saya tentu mengawalinya dengan menanamkan minat baca dan kecintaan terhadap buku. Untuk mereka yang masih berusia balita, saya biasanya membacakan buku cerita dan mendongeng pada berbagai kesempatan. Saya sengaja memilih buku cerita berwarna-warni dengan bahan dasar yang bervariasi. Pasalnya, warna-warna yang mencolok pada buku dapat menarik perhatian anak-anak secara visual dan tekstur buku yang beragam berguna merangsang indra peraba anak.

Sedangkan saat mendongeng, saya selalu melakukannya menjelang waktu tidur siang dan malam hari. Ide ceritanya berkisar aktivitas keseharian anak-anak saya. Untuk memperkuat pesan moral yang ingin disampaikan, saya selalu menggunakan nama-nama anak saya dalam penokohan cerita.

Untuk anak saya yang sudah masuk usia sekolah dasar, saya juga memberikan referensi buku-buku cerita yang lebih kompleks. Hal ini untuk menambah kosakata yang ia miliki. Saya pun mendampingi si sulung saat belajar dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR).

Kedua, saya menstimulasi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan dan imajinasi mereka dalam bentuk gambar ataupun tulisan. Kami biasanya bermain surat-menyurat atau membuat buku cerita bergambar bersama-sama. Khususnya si sulung, saya mendorongnya untuk menulis jurnal pribadi. Tidak lupa saya memberikan pujian sebagai penghargaan atas hasil karya yang mereka buat. Insentif lain yang saya berikan pada anak-anak saya biasanya berupa cemilan sehat bervitamin seperti Cerebrofort Marine Gummy Sachet.

Sumber:
Media Indonesia, 10 Juni 2018.
Ketiga, saya sekeluarga bergabung dalam komunitas literasi. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi dan memperluas persehabatan dengan keluarga yang memiliki visi misi yang sama. Salah satunya saat kami terlibat dalam Festival Literasi Keindonesiaan pada bulan Ramadhan lalu. Acara ini diselenggarakan sejumlah komunitas seperti Rumah Dongeng Pelangi, Generasi Literat, dan Jelajah Buku.

Sumber: dok. pribadi.
Dalam acara tersebut anak sulung saya tidak hanya merasa senang karena mendapat teman baru. Ia juga mendapatkan perspektif yang lebih segar dalam melihat keberagaman masyarakat. Ia mengaku lebih mudah memahami pelajaran yang disampaikan di sekolah karena ia tidak sekedar menghafalkan tapi juga mengamalkan.

Ketiga cara tersebut memang hanya mencakup faktor eksternal. Untuk melengkapinya, cara keempat yang saya gunakan lebih menekankan pada faktor internal. Dalam hal ini anak membutuhkan nutrisi yang cukup untuk memaksimalkan kinerja otak dan fisiknya. Karena itu, saya #DukungCerdasnya anak-anak saya dengan memenuhi asupan gizi yang seimbang. 

Tiap hari saya selalu sempatkan memasak makanan empat sehat lima sempurna. Karena saya yakin, memasak makanan sendiri lebih menjamin kualitas rasa dan kandungan gizi yang dibutuhkan anak-anak untuk menunjang daya kreativitas mereka. Selain itu, saya juga membatasi jajanan yang dikonsumsi anak-anak demi menjaga kesehatan. Dengan demikian mereka dapat menjalankan kegiatan secara aktif dan bermain dengan lebih ceria.


Sumber: dok. pribadi.
Namun kadang kala saya juga menghadapi tingkah balita yang suka pilah-pilih makanan. Mengingat lima tahun pertama merupakan masa keemasan tumbuh kembang anak, saya sudah pasti merasa khawatir. Dalam kondisi demikian, saya memberikan Cerebrofort Gold kepada anak balita saya untuk merangsang nafsu makannya. Saya tidak kesulitan ketika meminta mereka menelan sesendok Cerebrofort Gold karena produk ini menyediakan dua rasa kesukaan anak saya, stroberi dan jeruk.


No comments:

Post a Comment