Monday, July 30, 2018

Perempuan dan Simpanan Hari Tua

Sebagai ibu, perempuan kerap mendapat julukan menteri keuangan keluarga. Dialah yang berperan mengatur kecukupan dan kebutuhan rumah tangga. Jika dirasa pendapatan keluarga lebih besar pasak daripada tiang, dia memutar otak untuk melakukan penghematan atau kalau perlu dia akan turut bekerja untuk memperkuat finansial keluarga. 

Sayangnya, kecakapan perempuan tersebut sering kontras dengan kealpaan dirinya dalam menyiapkan masa tua yang sejahtera. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. 

Pertama, kondisi sosiokultural Indonesia memang tidak mendorong pola pikir perempuan mengenai pentingnya perencanaan untuk memiliki simpanan hari tua. Pasalnya, perempuan selalu ditempatkan pada posisi dependen dengan yang lain. Ketika memasuki usia senja, banyak perempuan akhirnya bergantung pada dana pensiun milik suami ataupun pemberian dari anak-anak mereka.

Padahal, keduanya tidak dapat menjamin pemenuhan kebutuhan masa tua. Dana pensiun suami misalnya, berjumlah relatif kecil. Salah satu penyebabnya antara lain proyeksi anggaran yang cenderung bias dalam jangka panjang. Maksudnya, kebanyakan perempuan tidak memperhitungkan tingkat inflasi dan besarnya nilai kebutuhan hidup ketika pasangan mereka memasuki masa purnakarya.

Perempuan yang bekerja di sektor formal mungkin bisa dikatakan lebih beruntung. Saat ini pemerintah mendorong komitmen perusahaan untuk mengikuti program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang di dalamnya memuat jaminan hari tua bagi pekerja. Akan tetapi, berapa banyak perempuan pekerja yang terjamin hari tuanya atau masa pensiunnya? 

Berdasarkan data BPJS triwulan I/2018, pesertanya mencapai 27,12 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) triwulan pertama 2018, angka tersebut terbilng kecil dari jumlah penduduk Indonesia yang bekerja, yakni 127,07 juta jiwa. Masih menurut BPS, besarnya tingkat partisipasi angkatan kerja tenyata masih didominasi oleh laki-laki yakni 83,01 persen. 

Dengan kata lain, partisipasi angkatan kerja perempuan masih rendah. Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa kebanyakan dari perempuan bekerja di sektor informal, seperti Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM); buruh tani; dan lain sebagainya. Artinya, secara sistemik, kesadaran perempuan untuk mempersiapkan tabungan hari tua sulit terbangun. Mereka masih berpikir bagaimana untuk memenuhi kebutuhan hari ini. 

Sementara itu, mengandalkan pemberian anak menjadi strategi paling absurd yang dipakai perempuan dalam menghadapi usia lanjut. Hal ini tidak lepas dari pemahaman orangtua yang memposisikan anak sebagai investasi hari tua. Melihat biaya hidup yang semakin tinggi, ekspektasi ini justru membebani anak di masa depan. 

Ungkapan keluh kesah para anak yang mendapat tanggungan hidup orangtua tergambar dalam unggahan status Lex Depraxis yang viral di Facebook belakangan ini. Sebagian besar narasinya pun ditujukan pada para ibu yang dianggap pamrih dalam mengurus anak.

Kedua, rendahnya kesadaran perempuan untuk menabung di bank. Mereka mungkin saja menabung. Hanya saja, tabungan mereka tidak diperuntukkan bagi keperluan jangka panjang seperti hari tua; melainkan jangka pendek atau menengah seperti uang masuk sekolah anak, umroh, dan kebutuhan konsumtif lainnya. 

Di pedesaan misalnya, perempuan berpotensi besar untuk menabung meski tidak dilakukan di bank. Kebanyakan dari mereka memilih menabung di taklim atau koperasi. Beberapa alasannya antara lain kemudahan akses di mana lokasi menabung ada di rumah tempat taklim diselenggarakan. Mereka juga lebih familier dengan pengurus taklim ataupun koperasi sehingga ada rasa saling percaya.

Sedangkan salah satu alasan mengapa banyak ibu rumah tangga di perkotaan enggan menabung di bank adalah besarnya uang administrasi yang harus mereka tanggung tidak sebanding dengan pemasukan yang mereka peroleh. Mereka pun lebih memilih untuk menabung secara konvensional seperti simpanan emas dan arisan. Kedua cara tersebut jelas beresiko tinggi. Jika hilang, tidak ada jaminan uang akan kembali. 

Arisan khususnya, tidak bisa dikatakan sebagai tabungan apalagi investasi. Tujuan awal arisan memang sebagai ajang silaturahmi sehingga uangnya tidak diasumsikan untuk simpanan jangka panjang. Ketika menerima uang tunai setelah pengundian, orang cenderung menjadi konsumtif. Menurut Mochtar Lubis (1977), hal ini sudah menjadi sifat manusia Indonesia yang boros.

Selain tidak bisa dicairkan sewaktu-waktu, total uang arisan yang diterima belum tentu sesuai dengan persetujuan awal yang disepakati para anggotanya. Pada banyak kasus, ada saja peserta yang tidak amanah atau kurang komitmen untuk membayar setelah mereka mendapatkan uang arisan. Bahkan tren belakangan ini menunjukkan banyaknya penipuan berkedok arisan, seperti arisan Ce Nying-nying di Blitar dan arisan Mama Yona di Bekasi. 

Para anggota arisan yang kebanyakan perempuan ini merugi jutaan hingga puluhan juta rupiah. Salah satu alasan mereka ikut arisan semacam itu karena dijanjikan bunga yang besar. Kondisi ini mengindikasikan tidak sedikit perempuan yang mengejar keuntungan dan mengabaikan resiko ketika mengikuti kegiatan arisan.

Jika perempuan berorientasi pada kepastian benefit dan keamanan finansial, mereka sudah tentu menabung di bank-bank yang menjadi peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Menabung di bank bukan hanya memberikan keuntungan yang bisa diprediksi, tapi juga membantu kita dalam menyusun perencanaan masa depan termasuk simpanan hari tua. Semua ini tentu tergantung dari jenis tabungan yang hendak kita buat.

Karena itu, kepedulian perempuan dalam mempersiapkan masa tuanya amat penting untuk menumbuhkan kesadaran menabung sejak mengawali masa berumah tangga. Dengan demikian perempuan tidak perlu menggantungkan hidup pada anak-anaknya ketika lanjut usia. Lebih dari itu, perempuan dapat mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya dalam budaya menabung sedari dini. Dari sini jelas bahwa menabung itu penting untuk pemberdayaan ekonomi perempuan. 

#AyoMenabung
#LombaLPS  

No comments:

Post a Comment