Tuesday, October 9, 2018

Menghancurkan Stigma Pendidikan Vokasi di Indonesia

Pendidikan vokasi merupakan jurusan yang paling realistis bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi pasar bebas tenaga kerja. Tingginya permintaan tenaga kerja terampil di sejumlah negara-negara maju berpotensi menyerap besarnya angkatan kerja di tanah air. Sedang di dalam negeri sendiri, peluang kerja yang tersedia bagi lulusan vokasi juga terbilang luas. Pasalnya, lulusan vokasi memiliki kualitas yang dibutuhkan oleh kebanyakan industri seperti manufaktur, kesehatan, pariwisata, agribisnis, pekerja migran, dan ekonomi digital.

Sayangnya, pendidikan vokasi masih dianggap sebelah mata. Secara umum ada dua padangan peyoratif terhadap lulusan pendidikan vokasi. Pertama, pendidikan vokasi masih dianggap sebagai jurusan yang tidak prestisius. Saya pribadi sempat mendapatkan cibiran oleh keluarga ketika menceritakan tentang keinginan anak saya yang ingin menekuni dunia pastry. Menurut mereka, tidak sepatunya saya dan suami yang kebetulan lulusan pascasarjana, berencana menyekolahkan anak pada jenjang pendidikan vokasi. 

Kebanyakan orang Indonesia berasumsi lulusan vokasi hanya dapat menempati posisi teknis ketika terjun di dunia kerja. Bahkan, asumsi seperti ini mulai mendiskreditkan mereka sejak masih berstatus mahasiswa. Dalam laporan tirto.id, ketua BEM Vokasi UI mengeluhkan diskriminasi terkait kepanitiaan sering terjadi dalam penyelenggaraan acara-acara kampus. Kebanyakan mahasiswa vokasi selalu ditempatkan pada divisi-divisi teknis, sepert medis, keamanan, dan logistik. Sedangkan divisi-divisi yang dianggap bergengsi seperti acara dan sponsor selalu diisi oleh mahasiswa jenjang sarjana.

Kedua, adanya anggapan bahwa belajar di perguruan tinggi tidaklah paripurna jika tidak lulus dengan gelar sarjana. Banyak orang mengatakan “Pendidikan vokasi itu sekolah tanggung.” Anggapan ini dipicu oleh keinginan kebanyakan orangtua yang untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang sarjana. Harapannya tidak lain agar anak-anaknya dapat memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Apakah harapan ini realistis di dunia kerja saat ini?

Kenyataannya, penghasilan lulusan vokasi dan sarjana yang baru lulus tidak berbeda jauh. Gambaran ini saya dapatkan dari banyaknya keluhan para alumni di kampus tempat saya mengajar (USNI). Menurut mereka, lulusan vokasi lebih diuntungkan dari segi energi, waktu, dan biaya yang dikeluarkan. Hal ini dilihat dari kelayakan pendapatan yang diterima antara lulusan pendidikan vokasi dan sarjana. 

Saya sadar betul, jurusan ilmu hubungan internasional yang saya ampu memiliki peluang kerja yang sangat terbatas. Kondisi ini diperburuk dengan orientasi kebanyakan mahasiswa saya yang sekedar ingin jadi diplomat atau kerja di luar negeri tanpa tahu kualifikasi apa yang dibutuhkan nantinya. Karena itu, saya selalu menekankan kepada mahasiswa saya untuk memiliki keahlian tambahan, seperti keahlian menulis dan bahasa asing lainnya untuk menunjang karirnya di dunia profesional.   

Secara garis besar, pandangan peyoratif yang disebutkan tadi telah menanamkan perasaan inferior dalam diri lulusan vokasi. Akhirnya banyak pemuda-pemudi kita yang tidak bisa mengembangkan minat dan keahliannya lantaran penilaian (judgment) dari lingkungan sosial. Hal ini tentu kontraproduktif dengan fungsi pendidikan itu sendiri yang seharusnya mengembangkan kemampuan dan memberdayakan diri seseorang.

Untuk memberikan dukungan sosial (social support) kepada mereka yang berminat untuk mengambil pendidikan vokasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pandangan (mindset) masyarakat. Para pemangku kebijakan sebaiknya memberikan sosialisasi tentang keunggulan-keunggulan pendidikan vokasi. Hal ini tidak hanya melalui iklan-iklan di media cetak maupun elektronik, tapi juga sosialisasi sejak Sekolah Menengah Pertama. Harapannya, para guru yang mengajar juga turut andil dalam memberikan gambaran terkait potensi dan realita dunia kerja di masa depan. 

Pemerintah daerah juga sebaiknya memberikan pelatihan bahasa asing selain bahasa Inggris secara cuma-cuma kepada warganya, khususnya bagi lulusan SMK dan pendidikan vokasi. Sebab, keahlian berbahasa akan mempermudah seseorang untuk memperoleh peluang kerja yang lebih luas. Sedangkan bagi perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi sebaiknya mempersiapkan laboratorium yang sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan lulusan vokasi. Sebab, masih banyak perguruan tinggi, swasta khususnya, masih berorientasi pasar. Mereka hanya membuka dan menerima mahasiswa tanpa adanya kesiapan dari segi kurikulum dan ketersediaan laboratorium.


   

No comments:

Post a Comment