Sunday, December 1, 2019

Indonesia-German Cooperation in Vocational Education and Training

Abstract 
To reduce the unemployment rate, Indonesia has focused since 2007 on the development of Vocational Education and Training (VET). VET is one of solutions that would enhance human resources quality in Indonesia, which has 262 million people. However, the number of unemployed graduates from vocational education is still high until 2019. It means there is something wrong in Indonesia’s current VET system. Meanwhile in Germany, VET is a pillar of national education which is based on a dual system. This system is successful in Germany. As one of the biggest donor countries in promoting VET, Germany tries to introduce a dual education system through bilateral relations with developing countries such as Indonesia. Indonesia seems to need to try to develop VET base on dual education system through cooperation with Germany. Thus, the research question of this article is “why does Indonesia need to make a co-operation with Germany in developing VET based on a dual education system?’ To answer the research question, this paper uses qualitative method which results in the following conclusion: Cooperation with Germany makes Indonesia gain support in developing the VET system in this country and get transfer of knowledge and technology from Germany as a developed country. Moreover, the cooperation would open the opportunity for abundant human resources in Indonesia to fulfill a huge labor demand in Germany particularly and Europe in general.

Keywords: Indonesia, Germany, Cooperation, VET, Dual Education System

Thursday, August 22, 2019

Genealogi Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Bebas aktif telah menjadi prinsip yang melekat dengan politik luar negeri Indonesia. Berawal dari pidato Muhammad Hatta pada 2 September 1948, politik bebas aktif dijabarkan Hatta secara rinci dalam tulisan Indonesia’s Foreign Policy yang dimuat dalam jurnal Foreign Affairs pada 1951. Prinsip ini dimaksudkan agar Indonesia tidak menjadi objek dalam pertarungan politik internasional, melainkan menjadi subjek yang berhak menentukan sikap dan tujuan sendiri. 

Mohammad Hatta menyebut Pancasila sebagai salah satu faktor yang membentuk politik luar negeri Indonesia. Kelima sila yang termuat dalam Pancasila, berisi pedoman dasar bagi pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ideal dan mencakup seluruh sendi kehidupan manusia. Hatta lebih lanjut mengatakan, bahwa Pancasila merupakan salah satu faktor objektif yang berpengaruh atas politik liar negeri Indonesia. Hal ini karena Pancasila sebagai filsafah negara mengikat seluruh bangsa Indonesia, sehingga golongan atau partai politik manapun yang berkuasa di Indonesia tidak dapat menjalankan suatu politik negara yang menyimpang dari Pancasila.

Thursday, August 15, 2019

Kebijakan Luar Negeri dan Politik Luar Negeri Indonesia

Sumber: dok. pribadi
Dalam studi hubungan internasional di Indonesia, istilah kebijakan luar negeri dan politik luar negeri sering kali digunakan secara tumpang tindih. Keduanya seolah memiliki pengertian yang sama. Padahal, kebijakan luar negeri memiliki pemahaman dan konteks yang berbeda dengan politik luar negeri. Perbedaan ini jelas terlihat secara literal. Salah satu cara sederhana untuk memahami kedua konsep ini adalah dengan menerjemahkan kedua istilah tersebut dalam Bahasa Inggris, yaitu kebijakan luar negeri (foreign policy) dan politik luar negeri (foreign politic).

Terminologi kebijakan luar negeri umum dipakai dalam studi hubungan internasional di seluruh dunia. Karena itu definisi bakunya dapat dengan mudah kita termukan. Menurut Joseph Frankle (1968), kebijakan luar negeri terdiri dari keputusan dan aksi yang melibatkan sejumlah hubungan yang cukup luas antar satu negara dengan negara lainnya. Dari definisi ini hasil dari kebijakan luar negeri berupa keputusan dan aksi. Dengan kata lain, ada kesinambungan proses dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut.

Monday, June 10, 2019

Jasmine's Message for Urban Muslim Girls

After its release in May 2019, the life-action movie remake of Aladdin soared at the box office in just a week. Thousands of reviews came from movie lovers, mostly containing praise; however, there were also some criticisms. What I would like to underline here is that most of these reviews only covered the comparison between the old version of Aladdin and the live-action one. Instead of comparing both of the versions, I prefer to talk about the new constructive values brought by the 2019 Aladdin. 

Princess Jasmine is a good metaphor to represent the urban Muslim girl in the Muslim world generally and particularly in Indonesia, which is the home of the largest Muslim population in the world. That is why this article summarizes the movie Aladdin from the perspective of Indonesian women. The contextual issue lies in the restrictions on the activities of women, which were developed based on safety and tradition. 

Monday, June 3, 2019

Indonesia's Generation Z and Pancasila

The young generation always reflects the spirit of being fresh, dynamic, and full of ideas. That is why Soekarno emphasized the importance of the contribution of the young to the development of Indonesia. He said in a speech, “Give me 10 youths, and I undoubtedly will shake the world.”

That statement showed how powerfully the young generation affects social change. It also puts expectation on the young generation to take responsibility for Indonesia’s growth in the future. In the current era, Indonesia’s generation Z, born between 1994 and 2010, has to be ready to take that responsibility. 

As the first generation of the digital world, generation Z is intensively attached to getting information through communication technology. They view smart-phones, not only as devices and platforms, but also as a way of life.

Friday, April 26, 2019

Menulis itu Bukan 'Mengécap'

Menjadi mahasiwa berarti harus siap menulis. Suka tidak suka, mahasiswa pasti mendapat tugas dari para pengajar yang umumnya berupa tulisan ilmiah seperti makalah, esai, ringkasan (summary), dan ulasan (review). Bahkan, prosedur standar kelulusan mereka juga ditentukan oleh karya tulis yang disebut skripsi atau Tugas Akhir (TA). 

Kenyataannya, banyak mahasiswa lebih sering galau untuk memenuhi tuntutan akademis tadi. Mereka cenderung bersikap pragmatis saat mendapat tugas dari dosen. Beberapa tindakan ini dapat berupa aksi penyalinan (copy paste) artikel dari situs web, plagiarisme, dan 'mengécap' kata. Dua praktik pertama jelas tidak dapat diterima dan termasuk kejahatan akademik. Namun 'mengécap' kata lebih dapat diterima dan lazim dilakukan mahasiswa.

Friday, January 4, 2019

Masih Perlukah Kita Bercita-cita Tinggi?

 Mengawali tahun baru, orang-orang pada umumnya membuat resolusi tentang apa-apa saja yang hendak dilakukan selama setahun ke depan. Entah itu membuat perubahan-perubahan dalam hidup atau bisa jadi mewujudkan impian dan cita-cita yang masih belum tercapai. 

Bicara tentang cita-cita, sewaktu kecil kita tentu pernah mendapat pertanyaan, "Cita-citanya mau jadi apa?" Pertanyaan itu pula yang diajukan panitia seleksi penerimaan siswa di sekolah dasar tempat anak sulung saya mendaftar. Jawaban anak-anak yang mengikuti ujian saat itu cenderung nyeleneh dan bikin geli. 

Banyak dari mereka ingin menjadi tokoh idolanya. Kebanyakan anak perempuan berharap ingin menjadi princess. Sedangkan anak laki-laki ingin menjadi superhero