Friday, January 4, 2019

Masih Perlukah Kita Bercita-cita Tinggi?

 Mengawali tahun baru, orang-orang pada umumnya membuat resolusi tentang apa-apa saja yang hendak dilakukan selama setahun ke depan. Entah itu membuat perubahan-perubahan dalam hidup atau bisa jadi mewujudkan impian dan cita-cita yang masih belum tercapai. 

Bicara tentang cita-cita, sewaktu kecil kita tentu pernah mendapat pertanyaan, "Cita-citanya mau jadi apa?" Pertanyaan itu pula yang diajukan panitia seleksi penerimaan siswa di sekolah dasar tempat anak sulung saya mendaftar. Jawaban anak-anak yang mengikuti ujian saat itu cenderung nyeleneh dan bikin geli. 

Banyak dari mereka ingin menjadi tokoh idolanya. Kebanyakan anak perempuan berharap ingin menjadi princess. Sedangkan anak laki-laki ingin menjadi superhero

Sayangnya, banyak orang dewasa yang menanggapi celotehan para bocah dengan ungkapan-ungkapan yang menciutkan hati mereka. "Itu mah bukan cita-cita" atau "Masa cita-citanya itu sih?!." Ungkapan-ungkapan macam tadi selanjutnya akan diikuti dengan petuah, "Cita-cita tuh harus tinggi." 

Kata-kata itu sempat putri sulung saya dapatkan ketika berkunjung ke rumah kerabat. "Cita-cita kok jadi koki sih, Na?! Cita-cita tuh yang tinggi," Hana memang pernah mengatakan keinginannya menjadi koki karena terinspirasi dari tontonan Master Chef Junior.

Saya merasa tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Menurut saya, setiap orang harus melakukan sesuatu yang menjadi kesenangannya (passion). 
Saya pun jadi bertanya-tanya. Apa sih yang dimaksud dengan cita-cita tinggi? Apa kita masih perlu bercita-cita tinggi? 

Cita-cita tinggi yang selalu dibicarakan para orangtua kebanyakan dipahami sebagai profesi-profesi yang dianggap prestisius dari segi sosial dan berpenghasilan besar dari segi ekonomi. Untuk mencapai pengakuan atas hasil kerja tadi, banyak orang sengaja mengumbar komentar yang merendahkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri. 

Sayangnya, memberikan celetukan peyoratif sudah menjadi kegemaran masyarakat kita pada umumnya, tidak peduli dalam bentuk ucapan langsung maupun unggahan status di media sosial. Hal ini pun mendapat legitimasi dari generasi tua. Mereka beralasan bahwa komentar negatif itu untuk mencabuk semangat anak. 

Kondisi ini juga diperburuk dengan persepsi bahwa pujian kepada anak akan melemahkan mental anak. Alih-alih terinspirasi dengan cara para orangtua, anak-anak justru meniru dan menerapkan kebiasaan meledek ataupun mengolok-olok orang lain. 

Kata-kata macam itu sebenarnya tergolong kekerasan verbal (verbal abuse). Namun kekerasan jenis ini biasanya dilakukan tanpa disadari karena dianggap lumrah dan menjadi bagian dari pergaulan. Kita bisa merasakannya di lingkungan keluarga, sekolah, kerja, dan pertemanan. 

Terkait dengan cita-cita, keinginan anak-anak pada dasarnya cenderung berubah seiring dengan pergantian sosok yang mereka idolakan. Itulah mengapa Daniel Scott menyarankan kepada para orangtua untuk berhenti menanyakan anak-anak tentang ‘apa’ cita-cita mereka saat besar nanti. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, tendensi pada pertanyaan ‘kenapa’ justru lebih menstimulasi anak untuk menggali dan melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan (passion) mereka. Alasan inilah yang akan memberdayakan anak-anak kita nantinya dalam mengisi tujuan hidup mereka sendiri. Pesan-pesan ini sering kali kita dengarkan dalam lirik lagu legenderis I Have a Dream berikut:

I have a dream. 
A song to sing to help me cope with anything.
If you see the wonder of a fairy tale.
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels when I know the time is right for me
I'll cross the stream. I have a dream.
I have a dream, a fantasy, to help me through reality
And my destination, makes it worth the while.
Pushing through the darkness still another mile.

Dari lirik itu kita dapat menangkap pesan bahwa semua orang, tidak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, harus memiliki impian atau cita-cita. Itulah yang memberi mereka kebahagiaan dan mendorong mereka untuk merasa hidup.

Pada dasarnya cita-cita tidak pernah memiliki derajat dan prestisi. Itulah mengapa kita tidak perlu membandingkan cita-cita atau impian yang satu dengan lainnya. Karena cita-cita adalah soal panggilan hidup. Tiap orang memiliki panggilan hidup yang berbeda-beda.

Di sinilah pentingnya peran orangtua untuk menafsirkan ulang apa itu cita-cita yang tinggi agar anak tidak terbebani dengan ekspektasi orangtua akan status sosial dan ekonomi. Karena itu kita sebagai orangtua sebaiknya membiasakan diri untuk tidak terlalu mempersoalkan akan menjadi apa anak-anak kita kelak. Sebaliknya, kita berfokus pada alasan di balik impian mereka dan mendukung usaha-usaha mereka untuk mencapainya. 

No comments:

Post a Comment