Friday, April 26, 2019

Menulis itu Bukan 'Mengécap'

Menjadi mahasiwa berarti harus siap menulis. Suka tidak suka, mahasiswa pasti mendapat tugas dari para pengajar yang umumnya berupa tulisan ilmiah seperti makalah, esai, ringkasan (summary), dan ulasan (review). Bahkan, prosedur standar kelulusan mereka juga ditentukan oleh karya tulis yang disebut skripsi atau Tugas Akhir (TA). 

Kenyataannya, banyak mahasiswa lebih sering galau untuk memenuhi tuntutan akademis tadi. Mereka cenderung bersikap pragmatis saat mendapat tugas dari dosen. Beberapa tindakan ini dapat berupa aksi penyalinan (copy paste) artikel dari situs web, plagiarisme, dan 'mengécap' kata. Dua praktik pertama jelas tidak dapat diterima dan termasuk kejahatan akademik. Namun 'mengécap' kata lebih dapat diterima dan lazim dilakukan mahasiswa.

Banyak mahasiswa berasumsi bahwa menulis hanya sekedar 'mengécap'. Istilah ini sudah saya dengar sejak saya menapaki jenjang sarjana dan ternyata masih populer digunakan oleh para mahasiswa jaman sekarang. Ungkapan 'mengécap' sendiri merujuk pada cara menulis yang sembarangan dengan hanya memasukan kata sebanyak-banyaknya. Istilah 'mengécap' jelas mencerminkan pengabaian sistematika dan estetika penulisan.

Mahasiswa saat ini sepertinya kian kurang menyadari manfaat menulis. Padahal menulis bukan sekedar untuk menunaikan tugas kampus. Lebih dari itu, menulis berguna untuk membiasakan kita berpikir secara sistematis dan kritis. Dari sini jelas bahwa menulis itu bukan sekedar 'mengécap' kata. Menulis itu tentang membangun alur logika sehingga tulisan menjadi sistematis dan ide dapat mengalir secara runut dalam rangkaian kata. 

Tulisan yang sistematis membantu pembaca dalam menangkap ide dan maksud yang ingin disampaikan penulis. Wajarlah kita sering menemukan tehnik-tehnik membaca cepat dan bukan menulis cepat, karena menulis adalah keahlian yang dilatih. Namun, kurikulum pendidikan kita memang tidak mendukung para mahasiswa untuk membangun keahlian ini. 

Kondisi ini tampak dari hulu sistem pendidikan nasional -SD, SMP, dan SMA- yang lebih banyak menyuguhkan soal pilihan ganda dibanding uraian dalam standar Ujian Nasional (UN). Saat duduk di kelas enam SD, saya penasaran dan menanyakan tentang apa itu esai pada wali kelas saya. Akan tetapi beliau tidak bisa memberi penjelasan yang memuaskan. Jadilah saya berasumsi kalau esai sekedar hafalan dari catatan yang kemudian dituliskan kembali untuk menjawab pertanyaan uraian. 

Setelah mengajar sejumlah kampus di Jakarta, saya pun jadi lebih paham bahwa perguruan tinggi hanyalah hilir dari ironi pendidikan nasional kita. Di satu sisi, banyak lulusan SMA tidak memiliki kemampuan menulis. Sedangkan di sisi lain, dunia kampus meminta penyelesaian tugas akademis yang membutuhkan kemampuan menulis. 

Demi meningkatkan keahlian, tidak sedikit kampus yang menyelenggarakan loka karya (workshop) penulisan. Para mahasiswa juga banyak yang berinisiatif menggelar sesi berbagi (sharing session) pengalaman dengan para senior. Sayangnya, inisiasi ini berpotensi blunder ketika acara diisi oleh pemateri yang melanggengkan sikap pragmatis dalam menulis, seperti acara yang saya hadiri pada Kamis lalu (25/04). 

Pemateri yang berstatus mahasiswa semester delapan universitas negeri di Depok itu menyarankan agar para peserta cukup melihat bagian abstrak dan kesimpulan saat membaca jurnal ilmiah. Saran seperti itu jelas berbahaya bagi para mahasiswa junior yang menghadiri acara karena tidak hanya melangengkan rendahnya minat baca bangsa kita. Hal itu juga menutup potensi ide yang mungkin muncul dan referensi baru yang mungkin kita dapatkan selama proses membaca. 

Kondisi demikian jelas mencerminkan rendahnya budaya literasi di Indonesia. Selain tidak memiliki kemampuan menulis, para mahasiswa yang seharusnya meneruskan tradisi akademis justru kurang mengapresiasi publikasi karya-karya ilmiah yang dibuat sepenuh hati dan bukan cuma 'mengécap' kata.

No comments:

Post a Comment